AURA
  • WpView
    Reads 36
  • WpVote
    Votes 5
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, Dec 15, 2017
Dunia yg di masa lalunya hanya terisi kenangan pahit...kini, ia perlahan melangkahkan ke dua kakinya diatas beratnya takdir.. kedua telapak tangannya mulai menyentuh pintu besar dgn warna abu2 nya yg terlihat tak asing baginnya.. 'apa akan sama seperti dulu..?!' gumamnya... sesaat..ia menundukan kepalanya memejamkan kuat kedua matanya, gigi yg berkerit itu terdengar jelas di kedua telinganya... .......Rasa Takut...... hanya itulah yg ada di benaknya... 'tapi.... ..seandainya memang harus..akan ku lakukan!' Ia menekan tubuhnya, setelah secercah rasa yakin terbesit pada hatinya melonggarkan beban pikirannya, membuat ke dua tangannya mendorong kuat pintu abu2 dihadapannya.. cahaya matahari terlihat memantul..perlahan ia mengangkat pandangannya..disana.... "Selamat pagi!..semua.."
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • DI DUAKAN KEMUDIAN AKU DI DEWIKAN
  • SENJA DI PUNCAK TANGKILING
  • Good Doctor
  • GIFA
  • The Chance
  • YOU ARE MY SUNSHINE
  • " To Love ,To Lose "
  • A. Y. T. D. A (ANAK YANG TAK DIANGGAP)
  • Traces in the Light
  • SELA ta KEY [END]

Gibran: "Sayang.. mas minta maaf, kamu jangan diam saja seperti ini, silah kan tampar atau kamu pukul saja badan mas sayang". Suara mas Gibran terdengar serak sambil menahan tangis. Terlihat mukanya merasa sangat bersalah. Mendengar perkataan mas Gibran, aku yang tadinya diam seperti robot, tiba-tiba mulai bereaksi dengan emosi yang memuncak. Tanpa sadar tanganku melayang menampar pipi mas Gibran. Kemudian aku memukul dadanya beberapa kali. Beliau kaget tapi tidak berusaha membalas perlakuanku kepadanya. "Aku benar-benar tidak menyangka mas!, kamu tega, sangat tega!. Semua perlakuanmu, kasih sayangmu bahkan semua perhatianmu selama ini ternyata palsu!", teriakku sambil menangis pada mas Gibran. "Kamu benar-benar jahat!". "apa kesalahanku sampai kamu setega ini mas!". "Aku benci sama kamu!". Teriakku kencang sambil memukul-mukul dadaku sendiri. Mas Gibran hanya diam melihat luapan emosiku yang memuncak. Kemudian tangannya berusaha memelukku, tapi aku langsung menepis tangannya menghindar, kemudian menjauh ke pojok tempat tidur.

More details
WpActionLinkContent Guidelines