Philophobia✔

Philophobia✔

  • WpView
    Reads 2,104
  • WpVote
    Votes 175
  • WpPart
    Parts 37
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, Apr 27, 2018
WpInfo
Fanfic
EXO
Trauma yang mendalam mampu membuat seseorang berubah. Perubahan itu bisa membawa dampak baik ataupun buruk. Dia hanya merasakan ke hampaan. Bagaikan lubang hitam, ruang hampa itu tak terhingga, tak tergapai. Hanya karna satu kata. Cinta Itu membuat dirinya mati rasa, jiwanya sudah tak lagi hidup. Dia tidak bisa merasakan hangatnya kasih sayang dan cinta di sekitarnya. Kedatangan seseorang yang mampu membuatnya merasakan hal itu di waktu kecil datang. Laki-laki itu membawa harapan. Secercah harapan agar si gadis bisa terbebas dari zona hitamnya. Tapi yang mana yang akan dia pilih? Kisah lama? Atau Membuat kisah baru? WARNING !!!!! ✔Drama ✔Romance (a bit) ✔Sad story (i think) ✔Slow update ✔Fanfiction ✔Typo ✔Complete Start 18022018 End 27042018
All Rights Reserved
#83
ot12
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • The Blooming Lady [completed]
  • THE DARK [END]
  • TOMORROW BY TOGETHER (END)
  • FRAGMENT (From ALTERITY)
  • Self Injury's(complete)✔
  • The Bleeding Lady [completed]
  • Reason (✔)
  • [COMPLETE] TO LOVE YOU MORE
  • Marriage Contract | ChanHun Fanfiction

"Katakan padaku bagaimana caranya berhenti mencintai seseorang yang bahkan tak pernah mencoba mencintaimu kembali?" Liana tak pernah bermimpi menjadi istri dari lelaki yang menatapnya seperti beban. Ia hanya gadis biasa, yang jatuh terlalu dalam pada laki-laki yang patah dan tak ingin diperbaiki. Pernikahan mereka tak dibangun dari cinta, tapi dari kesunyian yang tak diucapkan, dari janji-janji yang tak pernah dibuat, dan di dalam rahimnya, tumbuh seorang anak yang mungkin tak pernah dirindukan ayahnya. Di balik keheningan rumah yang dingin, di antara senyum pura-pura dan malam tanpa pelukan, Liana menulis surat-surat untuk anaknya. Ia tahu, dunia tak akan memberinya bahu untuk bersandar tapi ia ingin sang anak lahir dari seorang ibu yang pernah mencintai sepenuh hidup, meski dicintai tak pernah jadi bagiannya.

More details
WpActionLinkContent Guidelines