Bad Boy

Bad Boy

  • WpView
    Reads 29,828
  • WpVote
    Votes 847
  • WpPart
    Parts 10
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, Jul 30, 2020
"Mulai sekarang lo jadi pacar gwe,gwe gak terima penolakan"kata orng tersebut dan sukses membuat mata naya melotot "Tapi kan-"ucap naya terpotong oleh Alex ya orng yg menembak naya itu alex "Gwe gak terima penolakan"ucap alex tegas dan tak terbantah "Tpi gwe gak mau jadi pacar kakak"ucap naya melawan "Gak lo harus jadi pacar gwe!! Dan satu lagi jangan deket deket sama cowo lain kecuali kakak lo sama papa lo ngerti sweety"ucap alex dengan nada melembut tapi mengancam Naya hanya pasrah dan menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
All Rights Reserved
#444
possesive
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Katanya Jadi Anak Terakhir Enak - WOONHAK [Terinspirasi dari kisah nyata]
  • Pasangan Aneh (END)
  • Fucking Hurts
  • Where's Home
  • DEDEL(Zeedel)                                         (Slow Update)
  • Prison Of Twinflame
  • Horibble Woman (END)
  • ADIKARA ELUSIF (END)
  • Another Life
  • Crush On Bad Girl || Jay

Sejak hari itu, ayah tak pernah lagi menginjakkan kaki ke rumah. Tapi bayangannya masih menempel di tiap sudut di kursi kayu ruang makan, di seragam kerja yang masih tergantung di lemari, bahkan di kepala Wilano yang mulai sulit membedakan antara rindu dan benci. Dan suatu sore, saat langit menggantung kelabu dan gerimis turun perlahan, ledakan itu terjadi. "Gue bakal ke rumah Ayah bentar, mau ngobrol langsung," kata Rian pelan, mengambil jaketnya di gantungan. Suaranya hati-hati, tapi cukup untuk membakar emosi Seno yang sejak pagi sudah seperti bom waktu. "Ngapain lo ke sana?! LO PILIH DIA?!" Semua yang ada di ruang tengah menoleh. Suara Seno menggelegar, membuat udara di rumah seperti bergetar. Rian menoleh cepat, matanya melebar tak percaya. "Gue cuma mau bicara, Sen. Dia tetap ayah gue juga. Lo gak bisa larang gue ketemu orang yang selama ini ngerawat gue!" sahut Rian, nadanya naik. "Dia bukan ayah lo. Dia pengkhianat. Dan siapa pun yang masih mau bela dia... gak layak tinggal di sini." Suasana berubah tegang. Jaya berdiri setengah badan, siap menengahi kalau sewaktu-waktu keadaan makin memanas. Theo mengerutkan alis, tapi tetap tak banyak bicara. Wilano menatap semuanya dengan mata membesar. Dia tak mengerti, mengapa semuanya harus sejauh ini. Leon, yang sedari tadi diam, berdiri perlahan. "Kalau lo pikir begitu... gue ikut Bang Rian."

More details
WpActionLinkContent Guidelines