Perempuan Berstempel Merah

Perempuan Berstempel Merah

  • WpView
    Lecturas 70,912
  • WpVote
    Votos 1,459
  • WpPart
    Partes 5
WpMetadataReadContenido adultoContinúa
WpMetadataNoticeÚltima publicación mar, jun 5, 2018
WpInfo
Ficción
Histórica
Lalu mereka bertiga mendekatiku dan dari dekat memeriksa tubuhku yang telanjang, sementara tangan mereka mulai meraba-raba, mencari-cari di mana bekas stempel itu. Dengan kasar tangan-tangan itu menggerayangiku, sampai aku pun terjatuh. Mereka lalu menyuruhku mengangkat kedua tanganku, kalau kalau bekas stempel itu ada di ketiak ku. Kemudian mereka memerintahkanku menungging, karena salah satu opsir itu menduga stempel itu ditaruh di tempat yang tidak bisa dilihat. Mereka juga menyuruhku mengambil posisi-posisi lain yang sungguh memalukan.
Todos los derechos reservados
Únete a la comunidad narrativa más grandeObtén recomendaciones personalizadas de historias, guarda tus favoritas en tu biblioteca, y comenta y vota para hacer crecer tu comunidad.
Illustration

Quizás también te guste

  • Love Is You (Tamat)
  • Ruang ; Kursi dan jendela
  • [ID] It's All For Bad Purpose || Countryhumans ~•
  • 𝐉𝐚𝐧𝐝𝐚 𝐌𝐞𝐫𝐞𝐬𝐚𝐡𝐤𝐚𝐧
  • Tepian Takdir
  • Mas! || ThomasKong✔
  • Misi Pelengkap (Tiga)
  • Memories De La Mafia

Gadis pertama berdiri tegang melihat gadis kedua terduduk lemah di atas kursi roda. Wajah gadis kedua pucat. Ada kesakitan yang merayap di wajah gadis itu. Namun dia berusaha menyembunyikannya dengan memalingkan wajah. Gadis pertama masih shock sejak di IGD tadi dokter jaga menjelaskan bahwa kandungan gadis kedua tidak bisa dipertahankan lagi akibat perdarahan yang dialaminya. Gadis kedua hamil? Gadis kedua mengandung sebuah janin? Siapa... siapa yang melakukannya? Pertanyaan-pertanyaan itu muncul di kepala gadis pertama. Semua kebingungan dan kepanikan bercampur menjadi satu. Tidak tahu harus berkata apa. Tidak mengerti harus bertanya apa. Dia hanya diam membeku seperti orang bodoh. Tapi tatkala melihat raut wajah gadis kedua, gadis pertama tidak ingin bertanya apa-apa lagi. Apalagi ketika melihat gadis kedua menekuk perutnya karena sakit saat diminta berbaring di sebuah ranjang ginekologi, gadis pertama merasa iba. Belum hilang kebingungan mereka, pertanyaan seorang perawat malah membuat keadaan semakin menegangkan. "Di mana suaminya?" tanya perawat itu dengan suara datar. Sepertinya perawat itu sudah bisa mengira apa yang terjadi ketika ada seorang pasien yang datang bersama teman-temannya. Bukan keluarganya. Gadis pertama memandang gadis ketiga yang sedang berdiri di sudut ruangan. Gadis ketiga pun terdiam membeku tidak menjawab sepatah kata pun. Tapi matanya meredup lalu menundukkan kepalanya. Siapa suami gadis kedua? Menikah pun dia belum! Lalu sebuah suara lelaki menyentakkan mereka. Spontan mereka menoleh dan terkaget-kaget melihat siapa lelaki itu. "Saya suaminya." Bersamaan gadis pertama dan gadis ketiga melihat gadis kedua dengan ketegangan yang memuncak. Seolah menanyakan kebenaran jawaban lelaki itu. Tapi sayangnya gadis kedua memilih untuk berpaling. Lalu setetes air mata membasahi pipi gadis kedua. Melihat air mata itu, gadis pertama tidak perlu lagi bertanya. Dia sudah mengerti semuanya. Lalu tiba-tiba hatinya terasa sakit. Amat sakit.

Más detalles
WpActionLinkPautas de Contenido