We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.
KEKI
  • WpView
    Reads 124
  • WpVote
    Votes 11
  • WpPart
    Parts 3
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Wed, Jan 1, 2020
WpInfo
Fiction
Romance
Keki. K-e-k-i. 1 kata yang entah berapa kali sudah aku ucapkan selama 2 hari ini. Total, sudah 3 hari aku resmi menjadi seorang isteri. Tepatnya, sudah 3 hari resmi terpaksa menjadi seorang isteri. Kalian tentu bisa menebak pernikahan seperti apa yang aku jalani. Pernikahan ini jelas tidak atas kemauanku. Dan mungkin juga, bukan kemauan dia. Namun, kami menikah bukan karena salah satu dari kami menggantikan orang lain, bukan karena utang-piutang, bukan karena balas budi, bukan juga karena ketangkep hansip di lingkungan yang memang punya peraturan tentang jam keluar malam. Kami berdua menikah pure karena kemauan orangtua kami. Tepatnya kemauan Almarhum Ayahku dan Ayah mertuaku. Ayah dan Ayah mertua memang berkawan sejak lama; sejak SMP. Hubungan antara keduanya benar-benar seperti saudara kandung. Saking dekatnya, mereka berdua sampai memutuskan untuk menjadi besan bila usiaku sudah menginjak 17 tahun. Sayangnya bulan kemarin usiaku genap 17 tahun dan diawal bulan ini, aku dan anak laki-laki teman Ayah benar-benar disatukan dalam ikatan pernikahan.
All Rights Reserved
#5
muslimcouple
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Kawin Kontrak? [COMPLETED]
  • Be My Husband [END]
  • One More Time  (GOOGLE PLAY BOOK & KBM APP)
  • REGATHAN [END]
  • Marriage Is Scary Or Happy?
  • MY BAD HUSBAND ✓ (E N D)
  • philopobhia
  • My Husband| mpreg [Bxb] Terbit
  • FAITH: My Second Marriage (Buku Ready)

[COMPLETED] "Jadi lelaki itu yang akan dijodohkan ibu denganku? Tega sekali, Ibu," gerutuku. Aku semakin membulatkan tekadku untuk menolak ini. Tanpa kusadari, ibu melihat ke arah jendela kamarku dan melihatku kesal. Beberapa saat kemudian, terdengar suara pintu kamar diketuk. "Baby, buka pintu!" Pintanya tegas. Aku pun membukakan pintu. Lalu menelungkupkan badanku di atas kasur. Ibuku menarik kursi belajarku mendekat ke arahku dan memandangiku, lalu berkata pelan padaku. "Kau tahu sendiri kan kebiasaan di sini? Kau juga tahu asal usulmu? Kau paham betul, bagaimana ibumu ini bertahan? Semua karena ibumu ini sepakat dengan norma di sini. Mana mungkin kita bisa hidup cukup seperti ini kalau tidak mengikuti itu semua. Baby, kau tahu itu semua. Harusnya kaupun seperti ibumu ini, ikut arus itu." Melihatku tidak memandangnya, ibu terus mengatakan hal-hal yang sebenarnya kami berdua sama sama tahu. "Ibu menikah dengan bapakmu ketika seusiamu. Dengan itu, ibu bisa memiliki rumah ini dan seperangkat alat jahit. Ibu mampu membesarkanmu, menyekolahkanmu, memenuhi segala keinginanmu, dan tidak pernah menyusahkan orang lain. Kau memang tidak pernah bertemu bapakmu, tapi ibumu ini sudah bercerita tentangnya." "Kita hidup tanpa kekurangan. Bahkan bisa membantu sesama. Kita pun hidup bahagia. Mereka yang juga melakukan ini pun juga sama." "Menikah bukan sesuatu yang salah, Baby." Ibuku mengakhirinya dengan kalimat itu, lalu berdiri hendak keluar kamarku. "Tapi menjanda di usia muda bukan keinginanku, Bu." Balasku sebelum ibu keluar kamar. Ibuku berhenti sejenak, kemudian keluar dari kamarku. Happy reading~ Jangan lupa untuk: √ Vote √ Coment √ Kritik dan Saran Hargai author dengan vote, terimakasi💞

More details
WpActionLinkContent Guidelines