Jangan Bersedih

Jangan Bersedih

  • WpView
    Reads 18
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, Dec 21, 2017
Aku adalah seorang mahasiswi dari Universitas Sulthan Thaha Saifuddin Jambi. Dan lulusan dari pondok pesantren Al-Irsyadiyyah. Aku juga seorang mahasiswi yang terperangkap atau terjerumus didalam jurusan ku sendiri. Aku tak tau apa yang ada dipikiran saudara laki-laki ku, sehingga dia menjerumuskan ku kedalam dunia ini. Air mata yang hampir setiap hari bercucuran di dalam hidupku. Serasa setiap langkah kaki yang ku jalani seperti api neraka yang mengejar dalam kehidupanku. Aku tak bisa lagi mengucapkan kata-kata atau pun mengeluarkan suara dari mulut ku yang telah terkunci dengan kesedihan , dan terdiam dengan ketakutan. Aku takut, aku bingung, dan aku kwatir dengan langkah yang aku tempuh. Aku pun hampir menyerah dengan kehidupan ini. Karena apa ? Karena jurusan ini bukan ke inginan ku. Sampai akhir nya , aku bertemu dengan seseorang yang kehidupannya sama persis dengan kehidupanku sekarang. Diapun menceritakan semua pengalamannya. Bagaimana dia bisa bertahan di jurusannya ? Aku pun mendapatkan motivation darinya. akhirnya ke inginan ku untuk sukses pun bangkit kembali. Aku percaya bahwa jurusan yang aku dapatkan sekarang adalah takdir dari sang kuasa. Ingat jangan pernah bersedih sesunggunya " Allahu ma'ana ".
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Mengagumi Dari Barisan Jamaah
  • kiara's dream
  • JAUH DIMATA DEKAT DIDOA
  • ANNISA {ON GOING}
  • "PERJUANGAN CINTA BEDA AGAMA"
  • Cambuk
  • hanya untuk bunda
  • My Duchess / End
  • Jejak Luka Di Bawah Langit Senja
  • ALVIN (On Going)

Di antara barisan jamaah, aku hanya bisa menunduk, menyembunyikan rasa yang tak seharusnya ada. Suaranya menggema, melantunkan shalawat dengan begitu merdu, seolah menyentuh sisi terdalam hatiku yang penuh dosa. Aku bukan siapa-siapa, hanya seorang pendosa yang mencoba menemukan jalan pulang. Tapi mengapa setiap kali suaranya mengalun, aku merasa seakan Allah sedang memberiku petunjuk ? Apakah aku mengaguminya karena cintaku pada shalawat, atau justru karena hatiku masih rapuh menghadapi godaan dunia ?

More details
WpActionLinkContent Guidelines