Key of Love

Key of Love

  • WpView
    Leituras 226
  • WpVote
    Votos 25
  • WpPart
    Capítulos 9
WpMetadataReadMaduroEm andamento
WpMetadataNoticeÚltima atualização sáb, abr 28, 2018
WpInfo
Ficção
Romance
Fiona adalah seorang pianis cantik yang selalu ceria. Tapi ia punya satu kebiasaan yang aneh. Ia selalu menangis saat terbangun dari tidurnya tiap pagi. Ia sendiri pun tak tahu kenapa. Dan kebiasaan lainnya adalah tersenyum seraya menari-nari dikamarnya ketika suara kotak musik kesayangannya itu diputar. Kotak musik pemberian seseorang yang sampai kini tidak diketahui identitasnya. Suatu ketika ia diundang menjadi seorang juri dalam kompetisi piano tingkat nasional. Banyak orang mencibirnya karena ia tertidur saat acara berlangsung.Tapi semua orang tertegun melihat kemampuannya. Ia dengan cakapnya memberikan penilaian kepada semua peserta secara rinci di setiap detik permainannya. Setelah acara usai, Fiona kalang kabut. Berlarian di koridor gedung menuju aula utama perlombaan tadi. "Ini...! Tidak salah lagi! ODYSSEY!" katanya sambil berlari seraya meneteskan air mata. Fiona mendengar sebuah alunan musik yang tidak asing baginya. Lagu yang sama dengan kotak musik yang ia miliki. "Tapi, siapakah yang memainkannya?" Katanya dalam hati sambil terus berlari. follow me : Intagram : @myajnabi fb : @myajnabi youtube channel : Yu Sub Network
Todos os Direitos Reservados
Junte-se a maior comunidade de histórias do mundoTenha recomendações personalizadas, guarde as suas histórias favoritas na sua biblioteca e comente e vote para expandir a sua comunidade.
Illustration

Talvez você também goste

  • Red Horizon
  • 00.07 WIB [SELESAI]
  • PUTRI FIGURAN
  • Memory of The Love Melody {Completed}
  • Fur Elise [END]
  • Silent Tears(Yoonminkook)✅
  • Musikalisasi Rasa (SUDAH TERBIT)
  • Frekuensi Kesunyian [END]
  • Alenara; Living in a Fairy Tale

Mereka tidak pernah benar-benar bertemu. Hingga takdir mempertemukan mereka di bawah logo kuda jingkrak, di mana garis antara kemenangan dan kehancuran begitu tipis-mereka mulai melihat satu sama lain dengan cara yang berbeda. Dibayangi oleh masa lalu, di tengah sorotan media, tekanan tim, dan lintasan yang menuntut lebih dari sekadar kecepatan, keduanya terjebak dalam permainan yang lebih berbahaya dari balapan mana pun-sebuah permainan antara kehilangan, ambisi, dan perasaan yang tak seharusnya ada. [Spoiler] "I made a playlist," ucapnya singkat, suaranya nyaris berbisik. "Thought you might like this one." Evie ragu sejenak, tapi jari-jarinya mengambil earphone itu dengan hati-hati. Satu sisi ia pasangkan di telinganya, sisi lain sudah tersemat di telinga Theo. Kabel putih itu jadi satu-satunya benang yang menghubungkan mereka sekarang. Nada awal dari lagu pertama mulai terdengar. Lembut, namun menghantam. Gitar pertama berdenting seperti udara malam yang masuk lewat jendela, menggores pelan ke tulang. Drum-nya pelan, tapi mantap-seperti detak jantung yang tak bisa dipadamkan. Evie tak siap. Dadanya mencelos saat suara itu masuk. Every breath you take... Ia mengedip cepat, menahan sesuatu di balik tenggorokannya. Matanya tetap tertuju ke jendela, tapi ia tak lagi melihat apa pun di luar sana. Yang ada hanyalah suara, dan Theo di sampingnya-begitu dekat, panas tubuhnya terasa sampai ke tulang rusuk Evie. Seketika, ia sadar betapa ia merindukan kedekatan ini. Rindu akan diamnya Theo. Rindu aroma musk lembut yang entah kenapa selalu membuat jantungnya berdegup lebih cepat. Theo memejamkan mata, kepalanya sedikit menunduk. Ia tak bicara. Tak bergerak. Tapi keberadaannya... menciptakan kehadiran yang tak bisa diabaikan. Every move you make Every step you take I'll be watching you... Evie menggigit bibir bawahnya. Ia tak tahu apakah ini permintaan maaf atau sekadar bentuk penghiburan. Tapi yang jelas, ia tak sanggup menolaknya.

Mais detalhes
WpActionLinkDiretrizes de Conteúdo