Sebuah Pendewasaan

Sebuah Pendewasaan

  • WpView
    Reads 955
  • WpVote
    Votes 6
  • WpPart
    Parts 11
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, Mar 9, 2018
WpInfo
Non-Fiction
Seperti inikah diri ini. Selalu terhina dan terinjak-injak seenaknya oleh orang yang tak kupahami. Ataukah diri ini yang terlalu lemah menghadapi semua cobaan yang sedang menerpa. Selayaknya, kuingin hidup seperti mereka yang selalu bisa menerima kenyataan. Aku yang kuat dan tegar dalam menghadapi segalanya. Ingin ku diperlakukan bagaimana mereka memperlakukan mereka, bukan halnya denganku. Tak bisa kupungkiri. Diri ini begitu paham dengan asumsi masalah ada menjadikan kita lebih kuat. Rasa sakit itu memang harus ada. Mengertikan diri ini Ya Allah. Bagaimana agar ini tak terasa sakit? Diri ini paham kalaulah ini adalah sebuah pendewasaan. Diri ini sedang menderita. Diri ini harus paham kalau ini memang harus terjadi. Ternyata, begitu lemahnya diri ini sebagai manusia. Haruskah diri ini menyalahkan? Perubahan drastis dalam kehidupanku, ya hanya diri ini yang tahu. Belajar dari rasa tulus untuk tidak melihat kekurangan. Belajar bagaimana diri ini harus memaafkan. Belajar bagaimana diri ini harus rela menerima. Diri ini selalu mengharapkan sebuah ruang, walaupun kecil, tepatnya di hati kalian semua. Tidak pantaskah diri ini berdiri sejajar menyongsong hari esok bersama kalian? Rasa senang dan doa yang tulus selalu diri ini panjatkan agar semuanya lebih baik.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • 31 Months for You (Revisi)
  • I WONT GIVE UP
  • Bitch Daughter (Putri Kupu-kupu Malam) SELESAI✓
  • ANDAI AKU PUNYA KESEMPATAN LAGI (TAMAT)
  • Pe(luka)n ✔ [NEW]
  • Hijrah Cinta Sang Akhwat Fillah
  • BLACK LIFE✓
  • Surat Cinta untuk Diriku Sendiri

"Tidak semua cinta harus disuarakan. Tidak semua harap harus digenggam. Kadang, mencintai diam-diam adalah satu-satunya cara bertahan." Alia tidak pernah menyangka bahwa satu tatapan singkat di awal masa kuliahnya akan mengubah segalanya. Septian, lelaki dengan sorot mata tenang dan senyum yang jarang muncul, perlahan tumbuh menjadi pusat semesta kecil di dalam hatinya. Selama tiga puluh satu bulan, Alia menyimpan rasa itu sendiri. Dalam doa-doa sepertiga malam. Dalam senyum pura-pura. Dalam perasaan yang tak berani ia akui, bahkan pada dirinya sendiri. Namun ketika kedekatan itu mulai tumbuh, semesta justru menguji dengan luka lama, rasa minder, dan kenyataan bahwa tidak semua yang kita doakan bisa kita miliki. Ini adalah kisah tentang cinta diam-diam, perasaan yang tumbuh tanpa janji, dan perjuangan mencintai diri sendiri di tengah luka yang belum sembuh. Pelangi di Balik Hujan Rindu bukan sekadar romansa. Ia adalah perjalanan tentang harapan, kehilangan, dan keberanian untuk melepaskan... meski hati belum benar-benar rela.

More details
WpActionLinkContent Guidelines