Sebuah Pendewasaan

Sebuah Pendewasaan

  • WpView
    Reads 947
  • WpVote
    Votes 6
  • WpPart
    Parts 11
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, Mar 9, 2018
Seperti inikah diri ini. Selalu terhina dan terinjak-injak seenaknya oleh orang yang tak kupahami. Ataukah diri ini yang terlalu lemah menghadapi semua cobaan yang sedang menerpa. Selayaknya, kuingin hidup seperti mereka yang selalu bisa menerima kenyataan. Aku yang kuat dan tegar dalam menghadapi segalanya. Ingin ku diperlakukan bagaimana mereka memperlakukan mereka, bukan halnya denganku. Tak bisa kupungkiri. Diri ini begitu paham dengan asumsi masalah ada menjadikan kita lebih kuat. Rasa sakit itu memang harus ada. Mengertikan diri ini Ya Allah. Bagaimana agar ini tak terasa sakit? Diri ini paham kalaulah ini adalah sebuah pendewasaan. Diri ini sedang menderita. Diri ini harus paham kalau ini memang harus terjadi. Ternyata, begitu lemahnya diri ini sebagai manusia. Haruskah diri ini menyalahkan? Perubahan drastis dalam kehidupanku, ya hanya diri ini yang tahu. Belajar dari rasa tulus untuk tidak melihat kekurangan. Belajar bagaimana diri ini harus memaafkan. Belajar bagaimana diri ini harus rela menerima. Diri ini selalu mengharapkan sebuah ruang, walaupun kecil, tepatnya di hati kalian semua. Tidak pantaskah diri ini berdiri sejajar menyongsong hari esok bersama kalian? Rasa senang dan doa yang tulus selalu diri ini panjatkan agar semuanya lebih baik.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Truth After Love, Kiara and Zaki (Tamat)
  • Behind the Silence
  • Rintik Terakhir
  • Surat Cinta untuk Diriku Sendiri
  • Masih Ada Kamu di Setiap Luka [TAMAT]
  • Bitch Daughter (Putri Kupu-kupu Malam) SELESAI✓
  • Menulis untuk Diri Sendiri
  • Pe(luka)n ✔ [NEW]
  • 31 Months for You (Revisi)

sebelum baca, FOLLOW dulu gasii??? "Sayangkuu, cintakuu. Gimana dengan hari ini, hm? Are you happy?" "Seru dong, senang karena ada kamu, Ka. Hehe." Dulu, setiap percakapan kecil seperti itu mampu menyulap hariku jadi lebih indah. Tapi semua itu kini tinggal kenangan. Hubungan yang manis dan penuh tawa itu akhirnya harus berakhir, bukan karena cinta kami memudar, tapi karena kenyataan terlalu pahit untuk ditelan bersama. Aku masih mencintaimu. Masih ingin mendekat, masih berharap bisa kembali. Tapi jarak ini bukan lagi tentang raga-melainkan tentang takdir yang tak mengizinkan kita bersatu. Cinta kita besar, tapi tidak cukup untuk melawan kenyataan yang tak berpihak. Banyak halangan yang kucoba lalui demi kamu, demi kita... tapi ternyata semesta punya rencana lain. Kini, aku hanya bisa menatapmu dari kejauhan. Ingin kembali, tapi tak bisa. Ingin melepaskan, tapi hatiku belum rela. Satu kejadian itu-satu hari yang mengubah segalanya-telah memutus tali yang tak terlihat namun sangat kuat mengikat kita. Jika bukan karena kejadian itu, mungkin aku masih tersesat dalam hubungan yang samar: ada, tapi tak punya peran. Dulu aku memegang peran utama di hidupmu. Sekarang? Bahkan untuk menjadi figuran pun aku tak lagi layak. Kita pernah sangat dekat, tapi kini aku tahu... melepaskan sesuatu yang sudah terasa seperti rumah tidak akan membuat segalanya membaik. Bahagia tidak selalu datang setelah menjauh. Dan seringkali, hubungan yang tampak sempurna dari luar menyimpan luka yang tak pernah terucap. Aku tak menyangka semuanya akan berakhir seperti ini. Tapi yang sudah terjadi, biarlah terjadi. Meski begitu, kenangan itu-kenangan tentang hari itu-masih terpatri jelas di pikiranku. Hari saat aku sadar... cinta saja tidak cukup.

More details
WpActionLinkContent Guidelines