Rough Life

Rough Life

  • WpView
    Reads 63
  • WpVote
    Votes 19
  • WpPart
    Parts 5
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, Feb 16, 2018
Hidup yang gue jalani itu gelap, kelam, dan pastinya nggak enak. Nggak enak banget malah. Masih punya bokap tapi rasanya kayak nggak punya siapa-siapa. Cuma punya mereka, sahabat-sahabat kecil gue. Udah mereka doang. Di cela sana-sini, dianggap anak liar, anak nggak punya moral, anak nggak punya sopan-santun dan sebagainya. But, who's care? Tapi gue gak menyalahkan mereka semua yang nganggep gue kayak gitu kalo emang pada nyatanya mereka berspekulasi kayak gitu. Gue gak peduli gue mau dicela kayak apapun juga, asalkan bukan mereka, sahabat gue yang udah gue anggep sebagai saudara gue, keluarga gue. Sejak kematian nyokap, hubungan gue sama bokap gue merenggang dan berakhir kita nggak deket sama sekali. Jangankan deket, sekalinya ketemu aja adu mulut mulu, ck. Gue kira, hidup gue bakal selamanya kelam. Tapi.. perkiraan gue salah. Sejak saat itu. Sejak malam itu dan sejak kejadian itu. Kejadian dimana dia hampir berakhir karena musuh-musuh gue sendiri. Babe, Thanks for taking me away from the dark life -Satria Danu Wijaya, 09/07/2018
All Rights Reserved
#764
kelam
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • You're Here, But Not For Me
  • First Love And Last Love(✔)🔚
  • Truth After Love, Kiara and Zaki (Tamat)
  • Yang Tertinggal
  • Everything Between Us (ON GOING)
  • FATE LOVE S2 •Sunsun•✓
  • Cempaka Terakhir ✔
  • Perfect Queen
  • Dear Kamu : My One and Only Crush On My Life
  • I Love You

Katanya, tatapan bisa bohong. Tapi kenapa setiap kali mataku dan matanya bertemu, jantungku selalu membocorkan semuanya? Aku yang diam-diam menyimpan perasaan, dan dia... entah menyembunyikannya, atau memang belum menyadarinya. Kadang aku berharap dia gak lihat. Tapi kadang juga kecewa waktu dia beneran gak lihat. Lucu ya? Dan aku? Aku tetap di sini. Setiap kali aku melihatnya, aku hanya bisa menatap dari kejauhan, menyembunyikan perasaan yang tak pernah terucap. Aku takut, jika aku mengungkapkannya, semuanya akan berubah. Jadi, aku memilih diam, menikmati setiap momen kecil yang bisa aku curi bersamanya. Aku sering bertanya-tanya, apakah dia pernah merasakan hal yang sama? Namun, aku terlalu takut untuk mencari tahu jawabannya. Karena jika ternyata tidak, aku harus siap menerima kenyataan yang menyakitkan. Aku tahu, ini bukan cinta yang sehat. Tapi bagaimana aku bisa berhenti mencintainya, jika setiap detik aku hanya memikirkannya? Aku mencoba untuk menjauh, untuk melupakan perasaan ini. Namun, semakin aku mencoba, semakin aku terjebak dalam perasaan yang sama. Seolah-olah hatiku menolak untuk melepaskan. Aku membayangkan bagaimana rasanya jika dia tahu perasaanku. Apakah dia akan menjauh, atau justru mendekat? Namun, semua itu hanya ada dalam pikiranku. Aku menulis tentangnya, tentang perasaanku yang tak pernah sampai. Menulis menjadi pelarianku, satu-satunya cara untuk menyalurkan perasaan ini. Karena aku tahu, aku tak akan pernah bisa mengatakannya langsung padanya. Aku hanya bisa diam dan menahan semuanya sendiri. Tapi mungkin, inilah caraku mencintai. Dalam diam, tanpa harapan, tapi penuh ketulusan. Aku tahu, mencintai dalam diam adalah pilihan yang menyakitkan. Tapi aku juga tahu, ini adalah satu-satunya cara agar aku tetap bisa berada di dekatnya. Meskipun hanya sebagai teman, aku sudah cukup bahagia. Karena setidaknya, aku masih bisa melihat senyumnya setiap hari.

More details
WpActionLinkContent Guidelines