Macarons and the Lovers

Macarons and the Lovers

  • WpView
    Reads 3,897
  • WpVote
    Votes 43
  • WpPart
    Parts 4
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, Jun 29, 2012
WpInfo
Fiction
Romance
Sophie Fournier, seorang gadis pemilik kedai Macarons, tak pernah menyangka kalau kue kecil itu akan mempertemukannya dengan cinta. Dibalik kesukaannya pada Macarons, Pierre Durand ternyata menyimpan kenangan masa lalu dengan kue kecil itu. Ini kisah tentang hidup yang menjadi lebih manis karena Macarons. Tentang Macarons yang membuat segalanya menjadi lebih berwarna. Tentang perjuangan, kenangan, rindu, dan cinta. "Kau merindukanku, berarti kau merasa kehilangan diriku, karena hatimu telah jatuh kepadaku... Dan ingin kuakui, aku juga rindu... Pada Macarons-mu." -Macarons and the Lovers: à propos de macarons, et vous-même. (Tentang Macarons, dan dirimu.)-
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Sweetie Pie Corner
  • GAREN SINCERE LOVE
  • Jodoh di Tangan Bu RT
  • Our Little Secret [S.M]
  • Jasmine Blooms Between Us
  • BREATHE
  • MACARON LOVE
  • CINTA MEMBODOHI atau TUHAN MENUNTUN
  • Hiraeth and Vine [END]
  • Menjemput Tulang Rusuk

Bagi Nala Arutala, hidupnya sudah cukup manis dengan keberadaan Pinkie Pie Bakery, usaha kecil-kecilan yang ia jalankan dengan penuh cinta. Ia tidak butuh kejutan, tidak butuh drama, dan jelas tidak butuh seseorang yang suka bikin hidupnya lebih ribet. Tidak ada yang lebih membahagiakan selain aroma pie yang baru keluar dari oven dan senyum pelanggan yang puas. Tapi segalanya berubah absurd ketika mempertemukannya dengan Elio Leonardo. Cowok dengan tingkah konyol yang tiba-tiba muncul dihidupnya. "Jangan makan di sini kalau cuma mau nyebelin," kata Nala tanpa mengangkat kepala. Elio terkekeh, dengan santainya menggigit pie stroberi ditangannya. "Gimana kalau gue cuma pengen lihat muka bete lo?" Nala menatapnya tajam. "Gimana kalau gue larang lo datang ke sini lagi?" Elio menyeringai, seolah itu adalah tantangan yang menarik. "Nggak bisa. Gue pelanggan setia." Dan di situlah masalahnya. Lama-lama, kue-kue Nala mulai terasa lebih dari sekadar makanan. Setiap gigitan punya cerita, dan setiap pertemuan semakin mengaburkan batas antara iseng dan ketertarikan. Di tengah tugas sekolah, deadline ujian, konflik yang berhamburan dan masa depan yang semakin dekat, satu pertanyaan muncul: Apakah hati yang mulai terbiasa bisa tetap hangat meski waktu terus berjalan? Hi, My Sweetest Pie! •• cover mentahan from @lystudiodesaign

More details
WpActionLinkContent Guidelines