Story cover for Love Is Unpredictable by Intanaura01
Love Is Unpredictable
  • WpView
    Reads 105
  • WpVote
    Votes 18
  • WpPart
    Parts 2
  • WpView
    Reads 105
  • WpVote
    Votes 18
  • WpPart
    Parts 2
Ongoing, First published Dec 31, 2017
"Lo tersenyum saat memetik bunga cantik itu. Padahal lo ngga pernah tau perasaan tangkai saat bunganya pergi meninggalkannya." Erza menjeda kalimatnya sebentar lantas tersenyum. "Besok lagi jangan dipetik ya? Kalau lo memang suka bunga itu, jangan diambil dong. Biarin dia hidup bersama alam. Suka ngga harus memiliki 'kan?" 

Aku menangis mengingat perkataan itu.
Ya Erza. Sekarang aku tahu ... Aku tahu rasanya ditinggalkan oleh bungaku, itu menyakitkan.

Memang semua sudah berakhir. Tidak ada gunanya menyirami bunga yang telah mati. Maka, biarkan aku pergi. Selamat tinggal.

~Eirin Reinza Fortuna.
All Rights Reserved
Sign up to add Love Is Unpredictable to your library and receive updates
or
Content Guidelines
You may also like
Rainangkasa #2 [END] by AmandaPutri685
38 parts Complete
Hujan memang diciptakan untuk dijatuhkan. Semau dan semampu apapun hujan bertahan, tetap saja jatuh ialah keharusan. Semesta tak kenal kasih. Semesta tak pernah memilih. Jika sebuah hati berpaling, itu bukan salah semesta. Jika pada akhirnya harus mengenal perpisahan, itu juga bukan salah semesta. Salah seseorang yang tak bisa menjaga, salah seseorang yang hanya memberi kecewa. Hujan tak pernah menuntut perlakuan istimewa, namun bukan berarti dirinya diabaikan. ***** "Sa, aku cuma bantu kamu buat bebas. Biar kamu gak lagi sembunyi-sembunyi jalan sama cewek mana pun. Ini satu-satunya cara yang terbaik buat aku dan juga kamu." "Ra... " suara Angkasa berubah parau. Gerimis yang jatuh seakan menusuk seluruh tubuh Angkasa membuatnya merasa kesakitan, terutama hatinya. Namun di sini bukan hanya Angkasa yang merasa sakit, tapi Raina juga. Perempuan itu jauh lebih sakit. "Gue janji, Ra. Gue janji bakal berubah. Kasih gue satu kesempatan lagi." pintanya. Raina menggeleng seraya menarik lengannya. Kemudian, ia beranjak bangun. Disusul oleh Angkasa. Kini keduanya saling berhadapan dengan keadaan basah kuyup. "Aku harap suatu saat kamu temuin perempuan yang bisa bikin kamu bahagia, Sa." ***** Hubungan mereka berada di ambang perpisahan ketika perlahan-perlahan seseorang mengusik hati masing-masing. Ketika kisahnya tak lagi tentang dua orang yang jatuh cinta, tapi tentang dua orang yang sama-sama terluka, sama-sama mencoba bertahan, dan sama-sama melepaskan. Hujan sudah cukup sabar selama ini. Lantas, apakah masih ada kesempatan untuk merekatkan kembali yang retak? Mengembalikan kepercayaan yang dipatahkan?
You may also like
Slide 1 of 10
Rama Prananta (Sudah Terbit) cover
I HOPE [END] cover
I Missing You (COMPLETED)  cover
CLOSER cover
Rainangkasa #2 [END] cover
Hadiah Cinta Sepuluh Hari [TELAH TERBIT] cover
Dear Heartbeat [COMPLETED] cover
𝑨𝑹𝑨𝑲𝑯𝑨 [TERBIT] cover
Fall in Love Again? ✔ (TAMAT) cover
Rannia√ cover

Rama Prananta (Sudah Terbit)

31 parts Complete

"Kenapa sih lo gak mau pacaran?" tanya Rama. "Buat gue, pacaran itu gak jelas dasarnya. Karena hanya di dasari sebuah perasaan. Sedangkan yang namanya perasaan kan dinamis, berubah-ubah. Gak pasti, gak jelas, gak signifikan." jawab Rose dengan santai. "Lo harus coba buka hati. Lo harus coba pake perasaan, dengan begitu lo akan ngerti kalau perasaan itu gak sesempit yang lo kira dan gak sedangkal teori yang lo cetuskan." "Caranya?" "Pacaran sama gue." *** Rose yang selalu menggunakan logika di banding perasaan karena ada trauma mendalam yang berkepanjangan. Sedangkan Rama selalu saja berusaha mengulik luka tersebut. Rose berusaha agar tidak ada yang mengetahui luka tersebut, termasuk Rama. Namun, Rama tak pernah kehabisan cara untuk meruntuhkan pertahanan tersebut. *** "Nama lo bagus, sama kayak artinya, mawar. Indah, tapi gak semua orang bisa mendapatkannya. Tapi gue yakin, gue bisa dapetin lo. Selayaknya bunga mawar, lo punya duri buat ngelindungin diri. Jadi gak sembarangan tangan bisa ngedapetin lo. Kalau ada yang nekat, paling tangannya luka kena duri. Tapi gue bisa jamin, gue adalah orang yang pantes buat dapetin lo. Walau harus terluka." -Rama Prananta.