Impossible You

Impossible You

  • WpView
    Reads 27
  • WpVote
    Votes 7
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Jan 6, 2018
WpInfo
Fiction
Romance
Kaget. Ya, Kilan memang kaget saat melihat Hidan yang berada di tengah lapangan. Berdiri di hadapan seorang cewek dengan sebatang coklat dan sebucket bunga mawar putih. Cowok itu menggamit tangan cewek itu setelah dia menerima pemberian Hidan. Dengan lantangnya dia menembak cewek itu. Tentu mengundang semua murid untuk melihat, salah satu pujaan mereka yang sudah memilih pasangannya. Jeritan-jeritan itu juga yang mengundang Kilan tertarik untuk melihat, ada apa di bawah sana? Entahlah, ada rasa kecewa di dalam hatinya. Memang dia cemburu. Namun untuk kali ini bukan hanya cemburu. Tapi hatinya ikut sakit. Merasakan jika dia hanya salah satu pilihan Hidan, bukan satu-satunya orang yang di pilih Hidan. Fine. Jika memang itu keputusan Hidan, Kilan mencoba menerimanya. Mengikhlaskan nama Hidan hilang dari hatinya. Tapi semuanya pasti akan ada banyak perubahan yang menunggu. Semuanya hanya soal waktu.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Secretly Looking at You (END)
  • CAUSE I'M A NERD ! [END]
  • ✔Alena
  • My Cute Little Guy
  • Just You
  • D U D A
  • Friendlove
  • DeaSea
  • Calvarie | Revisian [Segera Terbit]
  • Sour Seventeen

"Ich liebe dich, Bapak Ridan." Tanpa malu, Anya mengucapkan hal itu. Ridan yang mendengarnya dibuat tertegun. Pasalnya, gadis remaja itu mengucap kata cinta padanya--guru yang memiliki perbedaan usia nyaris 20 tahun. "Dia lagi latihan buat drama, Pak," sahut Apin yang muncul dari belakang, langsung membekap dan memiting leher Anya, kemudian menyeretnya pergi. "Ada tugas dari guru Bahasa Indonesia." Pian merasa harus ikut andil untuk menghentikan tindakan Anya yang tiba-tiba itu. "Temanya ucapan kasih buat guru, sepertinya Anya salah paham sama penjelasannya. Permisi, Pak," jelas Pian yang bergegas pergi menyusul Anya dan Apin. Pipit yang berada di belakang mereka memandang Ridan dengan tajam. Ridan menghela napas, mulai lelah berurusan dengan siswa julid yang satu ini. "Kamu mau ngomong apa, Vitra?" "Makanya, Pak, cari pacar. Masa ditembak sama anak SMA," kata Pipit sebelum berlalu pergi dengan kedua tangan berada di saku celana. Ridan hanya bisa mendengkus dengan mulut terbuka. Sepertinya ia harus meninjau ulang keputusannya pindah ke SMA Merpati yang terasa seperti sebuah kesalahan.

More details
WpActionLinkContent Guidelines