Story cover for My Quotes  by AliyahAzz
My Quotes
  • WpView
    Reads 1,337
  • WpVote
    Votes 72
  • WpPart
    Parts 26
Sign up to add My Quotes to your library and receive updates
or
#931story
Content Guidelines
You may also like
Aku Sampai di Titik Ini by Wini_ara
32 parts Complete
"Apa benar kamu menyukaiku Elva?" Mendengar pertanyaan Ayden, mata Elva terbelalak. Dia sangat terkejut. Dia mematung, mati kutu di tempatnya. "Lihat aku Elva dan jawab dengan jujur.." Ayden meminta pada gadis yang diam dan menunduk tersebut. "Elva.." Panggil Ayden lembut, gadis itu masih saja terdiam. Setelah sekian lama, Elva pun berbicara. "Kak, Elva minta maaf ya. Tapi apa kakak ingat ketika Elva menawarkan makanan siang itu, sebelumnya aku membuatnya sendiri dengan niat memang untuk diberikan pada kak Ayden. Elva gak tau bagaimana, tapi aku sadar bahwa perasaan itu menguasai diri Elva. Sekarang, Elva berani mengakui kalau Elva menyukai kak Ayden karena sikap baik yang kak Ayden punya." Elva berbicara sambil menunduk. "Apa kamu tidak berani menatapku Elva?" Ayden memandang Elva yang masih menunduk. Elva menggeleng. Ayden menghela nafas berat. "Elva.., aku menghargai kejujuranmu dan terimakasih karena telah menyukaiku. Berat hati aku mengatakan ini, tetapi aku harus memperjelas semuanya. Ayden yang kamu kenal ini bukanlah seperti lelaki yang pantas diharapkan Elva. Jangan membuang waktumu untuk menyukaiku. Sebab apa? Aku ini memiliki setumpuk beban dalam diriku, jangankan membahagiakan wanita lain yang datang ke dalam hidupku, menyelesaikan masalahku sendiri aku belum mampu. Diriku sampai di titik ini masih seorang lelaki yang terjebak dalam masalah dan dihantui oleh mimpi buruk masa lalu. Pernah sekali aku mencari cinta yang lain tapi ujungnya aku kembali terjatuh pada lubang yang lebih dalam. Dan sekarang, aku tidak ingin membuatmu masuk ke dalam lubang ini." Elva menangis? Tentu saja. Lantas bagaimana setelah kejadian ini?
Truth After Love (Tamat, segera terbit) by tiaxyl
36 parts Ongoing Mature
perang "Sayangkuu, cintakuu. Gimana dengan hari ini, hm? Are you happy?" "Seru dong, senang karena ada kamu, Ka. Hehe." Dulu, setiap percakapan kecil seperti itu mampu menyulap hariku jadi lebih indah. Tapi semua itu kini tinggal kenangan. Hubungan yang manis dan penuh tawa itu akhirnya harus berakhir, bukan karena cinta kami memudar, tapi karena kenyataan terlalu pahit untuk ditelan bersama. Aku masih mencintaimu. Masih ingin mendekat, masih berharap bisa kembali. Tapi jarak ini bukan lagi tentang raga-melainkan tentang takdir yang tak mengizinkan kita bersatu. Cinta kita besar, tapi tidak cukup untuk melawan kenyataan yang tak berpihak. Banyak halangan yang kucoba lalui demi kamu, demi kita... tapi ternyata semesta punya rencana lain. Kini, aku hanya bisa menatapmu dari kejauhan. Ingin kembali, tapi tak bisa. Ingin melepaskan, tapi hatiku belum rela. Satu kejadian itu-satu hari yang mengubah segalanya-telah memutus tali yang tak terlihat namun sangat kuat mengikat kita. Jika bukan karena kejadian itu, mungkin aku masih tersesat dalam hubungan yang samar: ada, tapi tak punya peran. Dulu aku memegang peran utama di hidupmu. Sekarang? Bahkan untuk menjadi figuran pun aku tak lagi layak. Kita pernah sangat dekat, tapi kini aku tahu... melepaskan sesuatu yang sudah terasa seperti rumah tidak akan membuat segalanya membaik. Bahagia tidak selalu datang setelah menjauh. Dan seringkali, hubungan yang tampak sempurna dari luar menyimpan luka yang tak pernah terucap. Aku tak menyangka semuanya akan berakhir seperti ini. Tapi yang sudah terjadi, biarlah terjadi. Meski begitu, kenangan itu-kenangan tentang hari itu-masih terpatri jelas di pikiranku. Hari saat aku sadar... cinta saja tidak cukup.
You may also like
Slide 1 of 10
Aku Sampai di Titik Ini cover
Quotes Inspiration ✔ cover
do you miss me ? cover
Need You cover
Truth After Love (Tamat, segera terbit) cover
Untuk, Abadi | Completed ✔ cover
Rasa Tanpa Kata cover
ELBRASTA cover
Dear Kamu cover
FRIENDSHIP cover

Aku Sampai di Titik Ini

32 parts Complete

"Apa benar kamu menyukaiku Elva?" Mendengar pertanyaan Ayden, mata Elva terbelalak. Dia sangat terkejut. Dia mematung, mati kutu di tempatnya. "Lihat aku Elva dan jawab dengan jujur.." Ayden meminta pada gadis yang diam dan menunduk tersebut. "Elva.." Panggil Ayden lembut, gadis itu masih saja terdiam. Setelah sekian lama, Elva pun berbicara. "Kak, Elva minta maaf ya. Tapi apa kakak ingat ketika Elva menawarkan makanan siang itu, sebelumnya aku membuatnya sendiri dengan niat memang untuk diberikan pada kak Ayden. Elva gak tau bagaimana, tapi aku sadar bahwa perasaan itu menguasai diri Elva. Sekarang, Elva berani mengakui kalau Elva menyukai kak Ayden karena sikap baik yang kak Ayden punya." Elva berbicara sambil menunduk. "Apa kamu tidak berani menatapku Elva?" Ayden memandang Elva yang masih menunduk. Elva menggeleng. Ayden menghela nafas berat. "Elva.., aku menghargai kejujuranmu dan terimakasih karena telah menyukaiku. Berat hati aku mengatakan ini, tetapi aku harus memperjelas semuanya. Ayden yang kamu kenal ini bukanlah seperti lelaki yang pantas diharapkan Elva. Jangan membuang waktumu untuk menyukaiku. Sebab apa? Aku ini memiliki setumpuk beban dalam diriku, jangankan membahagiakan wanita lain yang datang ke dalam hidupku, menyelesaikan masalahku sendiri aku belum mampu. Diriku sampai di titik ini masih seorang lelaki yang terjebak dalam masalah dan dihantui oleh mimpi buruk masa lalu. Pernah sekali aku mencari cinta yang lain tapi ujungnya aku kembali terjatuh pada lubang yang lebih dalam. Dan sekarang, aku tidak ingin membuatmu masuk ke dalam lubang ini." Elva menangis? Tentu saja. Lantas bagaimana setelah kejadian ini?