Story cover for Serupa tapi tak Sama by _aallsss
Serupa tapi tak Sama
  • WpView
    Reads 116
  • WpVote
    Votes 24
  • WpPart
    Parts 5
  • WpView
    Reads 116
  • WpVote
    Votes 24
  • WpPart
    Parts 5
Ongoing, First published Jan 04, 2018
Sebenarnya, Elin sangat enggan untuk menemani sahabatnya bermesraan dengan orang yang dia sayangi didepan matanya, tapi apa boleh buat Elin merasa tidak enak dengan sahabatnya sendiri. Akhirnya Elin pun menjawab pertanyaan sahabatnya hanya dengan satu anggukan pasrah.

Malam hari pun telah datang, Elin dan sahabatnya sudah berdiri tepat didepan cafe tempat sahabatnya akan bertemu dengan orang yang ia sayangi, dengan langkah pasrah dan tertunduk sedih Elin mengikuti langkah Sahabatnya

"Vandiiii..."

mendengar sahabatnya memanggil nama itu nama yang tak asing dalam pendengarannya, sontak Elinpun mengangkat kepalanya melihat dengan seksama sahabatnya yang berlari menuju seorang laki-laki yang tak ia kenal "Vandy? itu kan bukan kak Vandy! lalu itu siapa? kenapa Vicha memanggilnya dengan nama Vandy? sebenarnya apa yang terjadi ini?" batin Elin seraya terdiam tak melanjutkan langkahnya

mau tau apa sebenarnya yang terjadi? langsung yuk baca cerita selengkapnya😊
All Rights Reserved
Sign up to add Serupa tapi tak Sama to your library and receive updates
or
#22elin
Content Guidelines
You may also like
You may also like
Slide 1 of 7
Kalau Aku Telpon, 'Dia' Marah Gak? cover
RESONANCE | (JKT48 Gen 12) cover
A Scratch For Sanguinis [Orine] cover
NYAMAN. (Lilynn & Orine) 48 Gen 12 cover
Aralie, Maafkan Aku cover
LABIRIN TAKDIR cover
Masa SMA [Completed] cover

Kalau Aku Telpon, 'Dia' Marah Gak?

7 parts Ongoing

Awalnya, Oline hanya menjalankan permintaan Delynn-mengantar Erine pulang, menemani jika Delynn tak bisa, memastikan gadis itu baik-baik saja. "Tolong jagain Erine ya, gue lagi sibuk." Itu yang selalu Delynn katakan. Dan Oline, sebagai sahabat, selalu menurut. Tapi lama-kelamaan, semuanya berubah. Erine bukan sekadar tanggung jawab yang Delynn titipkan. Setiap keluhan tentang Delynn, setiap panggilan malam yang meminta Oline untuk mendengar, setiap tawa, setiap tatapan yang tak seharusnya berarti apa-apa-perlahan, semuanya mulai mengisi ruang kosong dalam hati Oline. Dia tahu Erine masih mencintai Delynn. Dia tahu dirinya hanya tempat persinggahan saat Delynn tak ada. Tapi semakin lama, semakin sulit baginya untuk mengabaikan kenyataan bahwa Erine selalu pulang padanya. Oline tak tahu sampai kapan dia bisa menahan perasaan ini. Tapi ada satu pertanyaan yang terus menghantuinya setiap kali Erine memilih meneleponnya daripada Delynn: Kalau Delynn tahu, dia akan marah nggak? Atau justru... dia memang tak pernah peduli?