Gerbang Rimang

Gerbang Rimang

  • WpView
    Reads 30
  • WpVote
    Votes 1
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Jan 21, 2018
WpInfo
Fiction
Horror
Misteri yang terselubung dibalik sebuah Desa yang dikelilingi pegunungan dan dekat dengan pantai. Dylan semakin penasaran akan desa yang baru ditinggalinya. Mimpi-mimpi aneh yang dialaminya, gerbang aneh yang ia temui di hutan, laki-laki bermata silver yang menyelamatkannya, dan sesuatu yang di sembunyikan Pak Wirdjo sang penjaga rumah. Dimulailah petualangan Dylan yang haus akan misteri!
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Tumbal Mata
  • Surat Misterius dari Mr. X
  • Belahan Jiwa dari Dunia Lain
  • Help | Treasure ✓
  • Lingkaran Merah
  • Geist | Treasure
  • Revenge 2 | TREASURE
  • LARUNG
  • Teror sinden (Liburan Telaga Tengah Alas)

Aku selamat dari kecelakaan itu-atau setidaknya, begitulah yang kupikirkan. Bertahan hidup ternyata bukan akhir dari penderitaan, melainkan pintu menuju sesuatu yang jauh lebih mengerikan. Tersesat di hutan lebat yang seolah tak memiliki ujung, aku segera menyadari bahwa ancaman terbesar bukanlah binatang buas. Di tengah kegelapan, berdirilah sebuah desa terpencil bernama Soca, dihuni oleh penduduk dengan tatapan kosong dan perilaku yang membuat darahku membeku. Mereka menderita penyakit aneh: penglihatan mereka telah hilang, bukan secara fisik, tetapi seolah direnggut oleh sesuatu yang lebih dalam. Penduduk Soca hidup dalam pencarian obsesif terhadap apa yang mereka sebut sebagai "Cahaya." Sebuah keyakinan bahwa hanya dengan menemukan Cahaya itu, mereka dapat kembali "melihat"-mengakhiri kegelapan yang menyelimuti tubuh dan pikiran mereka. Pencarian itu tak mengenal batas moral, tak mengenal rasa kasihan. Ketika mereka akhirnya bertemu dengan kami-para penumpang yang selamat dari kecelakaan-segalanya berubah menjadi mimpi buruk. Dua keinginan bertabrakan: penduduk desa yang terjerat penderitaan ingin merebut kembali Cahaya mereka, sementara kami hanya ingin pulang. Kembali ke keluarga. Bukan menjadi bagian dari ritual gelap desa Soca. Di antara hutan, trauma, dan tatapan mereka yang tak bisa melihat namun selalu tahu ke mana harus memandang, satu pertanyaan terus menghantuiku: Siapa sebenarnya yang tersesat-kami, atau mereka?

More details
WpActionLinkContent Guidelines