Kenangan Serupa Hujan

Kenangan Serupa Hujan

  • WpView
    Reads 57
  • WpVote
    Votes 4
  • WpPart
    Parts 3
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, Feb 2, 2018
"Satu yang harus kalian ingat. Hati wanita itu bagaikan air jernih. Jika sudah tercampur setitik kotoran, maka seluruhnya akan kotor!" -Asiyah Davichi- . . . "Jangan pernah kau jadikan korban hatimu atas emosimu" -Muhammad Elvaniro Domani- . . . Kenangan serupa hujan.. Banyak yang mengatakan bahwa kenangan itu seperti hujan. Dimana payungnya bagaikan doa yang menjaga dari kuyupnya luka akan kenangan. Semakin ikhlas menerima datangnya kenangan, baik itu rintik, rinai maupun deras, maka semakin cepat pula luka akan masa lalu sirna. Benarkah? Haruskah aku menunggunya hingga reda maka akan muncul pelangi setelahnya?
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • RAIN SAMUDRA
  • 31 Months for You (Revisi)
  • Cinta Tanpa Raga
  • Rinai
  • Ia Rahasiaku
  • Dalam Rintik yang Sama
  • Luka dan Pilihan
  • Mengagumimu Karna Allah

Aqeela Rain Ameira, gadis periang yang memiliki trauma mendalam terhadap hujan setelah kehilangan adiknya dalam sebuah kecelakaan. Setiap kali hujan turun, ingatan akan adiknya yang pergi terlalu cepat kembali menghantuinya, membuatnya merasa cemas dan takut. Hujan, bagi Aqeela, bukan hanya simbol cuaca, tapi juga kenangan pahit yang sulit dihindari. Alrescha Fattah Samudra, laki-laki yang menyimpan trauma besar terhadap laut setelah kehilangan ibunya dalam kecelakaan laut. Laut yang luas dan tenang justru menjadi pengingat akan rasa takut dan kehilangan yang mendalam. Meskipun berusaha menghadapinya, setiap kali Fattah mendekati laut, bayangan ibunya yang hilang selalu mengintainya, menyisakan kekhawatiran yang tak mudah diatasi. "Gue bisa jadi payung lo ketika lo takut hujan, Lo bisa peluk gue ketika petir dan hujan datang bersamaan, gue akan selalu ada di samping lo, Qel" kata Fattah dengan lembut sambil menatap Aqeela Aqeela mengangguk pelan, matanya lembut. "Gue juga akan jadi ombak yang ngebawa lo ke pantai, ketika lo takut laut." Fattah tersenyum, lalu melanjutkan dengan penuh keyakinan, "Kita hadapin bersama selagi kita masih punya satu sama lain" Cerita ini sepenuhnya merupakan hasil dari pemikiran dan imajinasi penulis. Jika ada kesamaan dalam tokoh, tempat, atau elemen lain, itu murni kebetulan. Selamat membaca.

More details
WpActionLinkContent Guidelines