Bintang dan Wulan

Bintang dan Wulan

  • WpView
    Reads 226
  • WpVote
    Votes 14
  • WpPart
    Parts 6
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Tue, Feb 27, 2018
Semenjak tak ada lagi kita. Bagiku, hujan bukan lagi menjadi musik favoritku, jingganya senja pun tak lagi menawan, bunga yang mekar indah itupun tak lagi menarik, pelangi yang tersenyum dilangitpun tak lagi istimewa,karena aku harus melewati semua itu sendiri, tanpa kamu. Kita bukan lagi satu kata, sekarang kita kembali menjadi aku dan kamu, dua orang asing yang tak pernah mengenal sebelumnya. Apakah kamu tahu rasanya, kehilangan sesuatu yang sejak awal memang bukan milikmu. Aku tahu betul rasanya, seperti saat ini. Aku telah kehilangan kamu, aku kehilangan kita.
All Rights Reserved
#56
wulan
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • ALZEA : FEATURED SOULS
  • Di Balik Niqab [TERBIT]
  • Our Home Lost in This House
  • ZONA NYAMAN
  • Always Be With You
  • Khayalku
  • Come Back
  • Di antara dua hati
  • Rindu Yang Tak Pernah Diam
  • SELENOPHILE

Algesa liar, berantakan, dan terlalu akrab dengan kehancuran. Zea cantik, tapi matanya menyimpan luka yang tak bisa dijelaskan. Orang-orang berkata hidup adalah soal pilihan. Tapi bagi Algesa Axeliano Ravanaugh, hidup hanyalah sisa napas dari keputusan orang lain. Ia tidak pernah meminta untuk dilahirkan, apalagi tumbuh besar di rumah yang dipenuhi darah, teriakan, dan kebohongan. Setiap langkah yang ia ambil adalah pelanggaran. Bocah pemberontak yang menantang dunia karena dunia lebih dulu menghancurkannya. Ia melawan. Melawan dunia yang telah merenggut Bundanya. Melawan ayah yang seharusnya sudah terkubur sejak lama. Malam itu, di jembatan tua yang dingin menusuk tulang, Algesa tidak mencari apa pun. Ia hanya ingin diam. Tapi justru di sana, dalam gelap yang lengang, ia menemukan sesuatu yang tak terduga, sepasang mata yang tak asing. Bukan karena ia mengenalnya. Tapi karena luka yang tersembunyi di balik sorotnya terasa terlalu akrab. Zea. Ia bukan gadis baru. Bukan pula gadis baik-baik. Tapi ada sesuatu dalam caranya berdiri, dalam diamnya yang membatu, yang membuat Algesa terus melangkah. Bukan karena ia cantik. Tapi karena ia rusak. Sama seperti dirinya. "Kenapa... lo nolongin gue?" tanyanya lirih, tubuhnya gemetar tak hanya karena dingin, tapi juga karena luka yang terlalu lama disimpan. Algesa menatapnya lama, diam tanpa ekspresi. Petir menyambar di kejauhan, memperjelas gurat tajam di wajahnya yang basah. Tapi kemudian sudut bibirnya terangkat, membentuk seringai kecil, dingin, ambigu, tapi entah mengapa terasa jujur. "Mungkin karena gue suka ngerusak hal-hal yang hampir rusak." ALZEA : 05. April. 2025 By : Rossa Ig : @rossaroxie @_chaterinee

More details
WpActionLinkContent Guidelines