ORPHANAGE

ORPHANAGE

  • WpView
    Reads 196
  • WpVote
    Votes 35
  • WpPart
    Parts 3
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Tue, Jan 16, 2018
Gedung ini adalah saksi bisu dari awal kehidupanku hingga aku menemui ajal. Tubuh yang kecil serta mungil ini, aku sudah memiliki kewajiban untuk melayani tindihan juga desahan lelaki yang harusnya menjadi ayahku. Aroma wangi bunga juga mainan karet, harus aku lewati dan digantikan oleh aroma rokok juga alkohol yang selalu masuk kedalam indera penciumanku. Namun sayang, malam itu harus menjadi malam terakhirku saat menyeruput manis minuman hangat kesukaanku buatan tangannya. Ya, olehnya aku meregang nyawa di gedung tua saksi bisu perjalanan hidupku.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • MENGUMPAT !
  • Revenant: Kuntilanak Penyelamat
  • LANGIT DI BALIK JENDELA
  • [ E N D ] Bandung dan Kenanganku Tentangmu
  • The Heart of a Beast (COMPLETED)
  • DURI TERLINDUNG
  • Sweet RomanShit
  • Rumah Sepasang Luka ✓
  • Hit Love Preference: Work related  (TERJEMAHAN) LENGKAP
  • When Mr. Bossy Falling In Love

Perempuan introvert ini mulai membuka diri, mulai bermain media sosial, lalu keanehan demi keanehan dalam dirinya mulai terjadi yang sekaligus menjadi penghubung antara masa lalu dan teman-temannya. "Aku berencana mengirimkan DVR ini bersama dengan seprei yang dipakai ketika malam pertama kami menikah. Barangkali terdengar konyol, tapi seprei ini ada noda bekas darah selaput perawanku, iya ini salah satu kenangan yang masih tersimpan rapih di kotak penyimpanan kamar tidur kami. Aku titipkan seprei ini kepadamu Eya. Jika nanti anak perempuanku sudah remaja tolong berikan kepadanya sehingga nanti dia bisa menjaga mahkota hanya untuk suaminya." Eya sering kali mengumpat dari rasa takut dan trauma yang sekaligus menjadi bentuk luapan dendam amarahnya. Segala hal mengenai kematian merangsek berubah menjadi obsesi. Kengerian-kengerian mulai mewujud dalam pikiran, seakan membabibutakan kesadaran, di antara nyata atau imaji hanya ada mati. Cattleya Kirana Dewi, adalah mimpi buruk bagi pikiran dan imajinya. Saat ajal mulai melingkari leher, mereka memohon kematian kepadanya, sedangkan kematian baginya hanyalah sebuah jembatan untuk menuju keabadian. Mengumpat di dalam kematian tidak lagi tabu bagi mereka yang menuju mati dalam umpatan.

More details
WpActionLinkContent Guidelines