We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.
The City that Lose its Color

The City that Lose its Color

  • WpView
    Reads 6
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Tue, Feb 6, 2018
WpInfo
Non-Fiction
Suatu hari di sebuah kota karya seni tidak lagi dihargai dan dinikmati oleh masyarakat Suatu hari semua pekerjaan yang paling dibanggakan adalah orang kantoran Seniman, musisi, ahli sastra, petani, dan nelayan semua dianggap cita - cita paling tidak berguna oleh orang tua semua anak, tak ada satupun orang tua yang ingin memiliki anak yang punya cita - cita seperti itu. Pada masa ini di kota ini bagaikan kota yang tidak punya warna dan arah tujuan Orang tua hanya akan bangga jika anaknya memakai pakaian berjas dan berdasi serta duduk di depan komputer yang menyala setiap hari mengetik dan mengetik. Saat masa sekolah semua orang merasa jika nilai diatas kertas adalah segalanya, jika di kertas tertulis dengan baik pasti akan di puji tetapi jika tidak maka sebaliknya. Apakah benar aku hidup di dunia seperti ini? Seperti hidup tetapi rasanya mati dalam jiwa.
All Rights Reserved
#222
newbie
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • sraddah (on going)
  • ARUNI & ARUNDYA
  • My Duchess / End
  • Mutualism Symbiosis[Hiatus]
  • Cleaning Service di Dunia Bangke (Progresi LitRPG)
  • NOESIS [END]
  • Become Baby Boy✓
  • Another [END]
  • BLUE BLOOD

mata lentik itu terbuka saat matahari menerpa wajah nya, dia terduduk dengan keadaan bingung dan heran, seingatnya dia tadi sudah mati karna di bunuh, kenapa dia disini?. "nyonya, segeralah bersiap tuan sedang menunggu nyonya di ruangannya" *** "seperti keinginan mu waktu itu, aku mengizinkan mu untuk pergi dari kastil dan hidup sebagai rakyat biasa, sebagai pengakuan kesalahan mu Karna telah melukai nyonya meneer waktu itu" hah?, wah wahh baru saja merasakan hidup enak malah jadi hidup susah, tapi tak apalah dari pada disini aku merasa kurang nyaman. "baik tuan aku akan bersiap untuk pergi, terimakasih telah memberikan hukuman yang tak berat, saya akan berangkat malam ini" "yah hiduplah menjadi rakyat nyonya, agar Anda tak merasa anda selalu berkuasa" "baik tuan saya izin pamit, terima kasih karna menerima maaf saya" "ya pergilah, ini koin untuk anda bertahan hidup, carilah kerja dan hidup lah dari uang hasil kerja keras mu nyonya" "tentu, saya izin pamit" aku pergi dari ruangan nya, benar aku harus segera bersiap, dan harus berkerja keras dan lebih giat lagi. "nyonya tuan muda sedang menangis sekarang, maaf nyonya saya bukan bermaksud untuk mengangu nyonya tapi lihat lah tuan muda dulu" WTF lah nie tubuh dah jadi emak emak?, yaudah lah gue Bawak ajah tu bocah "antarkan saya ketempat tuan muda" "lewat sini nyonya" yukkk mampirrr kalau kepooo kelanjutannya🤭 Arti judul bisa di lihat di capt 13 Cover by canva and pinterest

More details
WpActionLinkContent Guidelines