Aku (tak) Mencintainya

Aku (tak) Mencintainya

  • WpView
    Reads 145
  • WpVote
    Votes 8
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Jan 14, 2018
Teruntuk Suamiku, kepala rumah tanggaku.... Suamiku, maafkan aku. Maafkan sekali lagi.... Atas sebuah pernyataan. Bahwa selama ini aku tidak pernah mencintaimu. Aku tidak pernah menyayangimu. Hubungan yang sudah dua tahun kita jalani, yang kata orang itu sebuah rumah tangga. Mereka bilang, keluarga kita harmonis. Kedua belah pihak keluarga rukun dan saling mengasihi. Mereka melihat, kita baik-baik saja. Keluarga kita pun begitu. Mereka sangat berbahagia dengan ikatan kita. Maafkan aku, suamiku.... Aku tak pernah mencintaimu.... Sejak upacara pernikahan itu, pula sampai detik ini. Aku belum bisa mencintaimu.... Aku tidak bisa mencintaimu.... Maafkan aku.... Suamiku, aku tahu ini menyakitkan ketika kau menerima kenyataan. Bahwa hubunganku denganmu, segala yang selama ini aku lakukan kepadamu, hanya semata supaya kita terlihat wajar sebagai sepasang suami-istri. Maafkan aku, suamiku.... ****
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • BYE, MANTAN! (TAMAT)
  • Halycon
  • Dear Imamku
  • No Longer In Love
  • SETTLE || JeongKook
  • Langkah baru bersama mu
  • My Best Mate
  • DUA ROTI [EBOOK]
  • Northern star

Suamiku tidak mencintaiku, saudari seayah beda ibuku ternyata seekor ular beracun, dan hidupku tidak baik-baik saja. Bahkan suami antagonis dalam sinetron murahan pun jauh lebih baik daripada suamiku yang membuatku sakit, sekarat, lalu mati. Benar-benar kurang ajar! Barangkali semesta menaruh simpati terhadapku hingga memberiku kesempatan kedua. Aku kembali ke masa sebelum terjerat pernikahan konyol dengan mertua yang sifatnya mengalahkan ibu tiri dalam serial picisan. Mengejar cinta suamiku? Humph! Mimpi! Aku tidak peduli dengan keluarga maupun suamiku. Kuputuskan meninggalkan mereka, menyepi ke pinggiran kota, dan membangun kehidupan baru yang ideal bagi orang sepertiku. Namun, memang dasar setan! Mereka masih saja mengganggu dan berharap aku akan bersedia mengorbankan kebahagiaanku demi sesuap kasih sayang semu! Sialan! Jambu! Beri aku ibu peri! Sekarang! "Mau jadi menantuku, Sayang?" Tetanggaku, seorang nenek mencurigakan yang mungkin saja penyihir, menawarkan cucunya kepadaku. Memangnya apa yang bisa kulakukan? Tentu saja menerima pernikahan tersebut! Dengan begitu mantan suami dan mantan keluarga yang berengsek itu takkan bisa menyentuhku. Jenius! "Sayang, yuhuuuuu! Aku datang!"

More details
WpActionLinkContent Guidelines