Cinta Benci dan Rindu

Cinta Benci dan Rindu

  • WpView
    Reads 32
  • WpVote
    Votes 2
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Tue, Jan 16, 2018
Masa putih abu abu adalah masa yang sangat sangat indah bagi remaja. Dari berbagai kegiatan menarik,teman sejati, mengenal dunia yang lebih luas, bahkan sampai mengenal apa arti cinta yang sesungguhnya. Cinta,sebuah kata yang indah dengan berbagai makna.Kata remaja jaman now hidup tanpa cinta itu bagaikan sepeda tanpa rantai yang terasa tak lengkap jika keduannya tak bersatu. Namun tak semua cinta berakhir indah. Banyak sekali cinta yang berakhiran menyakitkan. Apa lagi kalau cinta berakhir apabila pihak satu sudah tak bisa mencintai tapi pihak lain masih memiliki rasa cinta namun juga rasa benci karena sudah tersakiti dan rasa rindu karena lama tak bertegur sapa. Seperti kisah yang akan saya tulis ini. Selamat Membaca :v
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Ranjau Waktu
  • BADAI
  • FATQEEL
  • Edelweis
  • Axel (Tamat)
  • Filosofi Kaktus [Selesai]
  • Exchange (End)
  • Story Of School

Banyak yang bilang, masa putih-abu adalah saat yang tepat untuk cinta bersemu. Dua hati bertemu, bunga-bunga pun bermekaran. Serasa dunia milik berdua, yang lain buang saja ke lautan. Cinta, satu kata penuh makna. Berjuta tafsiran di sandingkan padanya. Arfan dengan game? Ya, itu cinta. Toro dengan konspirasi alien? Ya, itu cinta. Pak Galuh dengan tengkorak manusia purba? Ya, itu cinta. Pak Rama dengan ulangan matematika dadakan? Jangan percaya. Kalau yang ini bukan cinta namanya. Si Bapak saja yang terlalu senang membuat muridnya menderita. Apapun pendapat kalian soal cinta, itu hak kalian untuk percaya. Merupakan hak-ku pula untuk memilih apa yang mau ku yakini. bagiku, cinta itu omong kosong, penderitaan, bajingan, menjijikkan, ku biarkan kata-kata itu tertanam dalam kepercayaan; di biarkan menggebu, bersatu dengan emosi yang semakin berkobar bersamaan dengan panasnya telinga saat mendengar kikikan Ibu di halaman belakang. Ahh, yang lagi kasmaran. Bertelepon dengan selingkuhannya lagi, tuh.

More details
WpActionLinkContent Guidelines