ANNASTASIA

ANNASTASIA

  • WpView
    Reads 510
  • WpVote
    Votes 52
  • WpPart
    Parts 15
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, Sep 4, 2020
"Jika saling mencintai, mengapa harus ada yang tersakiti" -Annastasia O.Hawkins Ini kisah tentang aku dan matahari. Kau yang selalu ada disampingku, apakah sudah cukup menggantikan matahari disaat senja menghabiskan sinarnya. Selalu menemani saat Bulan dan Bintang mulai asik dengan dunianya sendiri. Atau mungkin kamu hanyalah kesalahan yang dibuat oleh langit. Untuk menyadarkan ku bahwa cinta tidak semudah yang kubayangkan.
All Rights Reserved
#52
fine
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Memories in Moon
  • Bulan Matahari
  • Bulan [End]
  • ALETHA ( Completed )
  •  ANATHA
  • RANA
  • Ketika Bintang Kehilangan Cahayanya
  • Pelangi untuk Hujan(on going)

Gadis ini menundukkan kepala membiarkan kucuran air membelai surainya. Hujan terus menggiringku untuk bermimpi, takala ia terus menyusuri tubuhku dari rambut, hingga ujung kaki. Aku hanya diam, air ini sedikit membuat ku tenang. Aku takut, aku gelisah. Aku ingin berteriak memaki keadaan. Memaki diriku. Hujan, akan kah dirimu marah jika ku maki dengan isak ku? Akankah dirimu menerima rasa takut ku? Trauma ku? Semua kegelisahan ku? Rasa tidak percaya ku akan diri ku sendiri? Adakah yang bisa menerimaku? Bulan, jika kau jadi aku, akankah tetap setegar dirimu? Apakah hujan adalah wujud kekecewaan mu pada diri sendiri? Apakah awan yang menutupi mu adalah caramu untuk menghilang? Akankah menghilang adalah wujud lelah mu? Bersembunyi dibalik awan, apakah itu bentuk ketakutan mu seperti aku takut menghadapi kenyataan? Boleh aku jadi dirimu? Jarang di lihat mata, di nanti sebelum purnama namun di sukai saat sempurna. Bulan, pernah kah kau takut akan cacian manusia yang begitu kejam? Bahkan, bintang yang dapat kau gapai bisa saja mencela mu. Rambu dari mereka selalu menusuk nurani. Hilang akal ku, hilang kepercayaan ku. Masih normalkah jika ku bilang ingin menghilang? Masih terimakah kau jika ku bilang mereka harus lenyap?

More details
WpActionLinkContent Guidelines