Sepi, Kopi, dan Puisi

Sepi, Kopi, dan Puisi

  • WpView
    Reads 228
  • WpVote
    Votes 10
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadComplete Sun, Jan 21, 2018
Untuk penikmat senja yang tak tahu cara bicara tentang asa, selain lewat kata Untuk penikmat sepi Yang diam-diam masih merindukan percakapan tentang asa diantara secangkir kopi dan kini berusaha kembali mencintai melalui bait-bait puisi
All Rights Reserved
#211
asa
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Senandika untuk yang Tak Bernama (GreShan)
  • ROMANSA KATA
  • Ayo menepi dulu, sebentar saja.
  • About You Dandelion
  • Nasihat dalam Puisi
  • Secangkir Kopi dan Seutas Rindu [ COMPLETED ]
  • SUARA TINTA (Selesai)
  • RUMPANG RAMPUNG
  • Senja

Di antara ruang-ruang waktu yang rapuh, ada dua bayang yang saling mengenal tanpa pernah benar-benar berjanji untuk bertemu. Seperti angin yang tak bisa dijinakkan, mereka terjebak dalam pusaran perasaan yang tak terucap-seperti dua kutub yang selalu saling mendekat, namun tak pernah benar-benar menyatu. Shani dan Gracia-dua nama yang berpadu dalam riuh dan hening yang tak berujung. Sebuah kisah yang tumbuh di antara jeda-jeda keheningan dan kesalahpahaman, di mana cinta hadir bukan sebagai sesuatu yang harus dikuasai, tetapi sebagai sesuatu yang terus menguji batas. Dari pertemuan yang tak sengaja, hingga keputusan yang menggantung di antara masa lalu dan masa depan, mereka bergerak dalam ruang yang terperangkap di antara harapan dan ketakutan. Cinta yang pernah lahir di celah-celah keterasingan kini harus dipahami kembali-apakah ia benar-benar bisa menjadi rumah, atau hanya sekadar bayang yang tak bisa digenggam? Dan seperti jejak yang ditinggalkan di pasir pantai yang terus dihempas angin, mereka mencoba mengerti: apakah ini adalah akhir... atau justru awal dari perjalanan yang lebih jauh?

More details
WpActionLinkContent Guidelines