Pantang menyerah dalam menuntut ilmu

Pantang menyerah dalam menuntut ilmu

  • WpView
    Reads 211
  • WpVote
    Votes 15
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Feb 4, 2018
WpInfo
Non-Fiction
Di suatu hari, ada seorang anak yang bernama Iwan. Iwan adalah seorang pelajar dari SMA 1 Jakarta dan dia termasuk dari keluarga yang ekonominya rendah. Ibu dan Bapaknya sudah meninggal sejak dia berumur 5 tahun. Iwan sekarang tinggal bersama nenek dan kakeknya. Setiap hari, iwan membantu kakeknya untuk bisa membayar biaya sekolah iwan. Disekolah, Iwan termasuk orang yang cerdas. Teman-temannya pun sangat baik dan bangga kepadanya Iwan, karena dia selalu menolong kepada sesama dan pantang menyerah dalam menuntut ilmu walaupun ekonomi keluarga iwan rendah. Tetapi masalah tersebut tidak menghalangi semangat Iwan dan dia pun selalu berayukur kepada Allah SWT agar selalu diberi rahmat. Dia berharap agar bisa masuk ke perguruan tinggi ( universitas ) dan semoga cita-citanya tercapai yaitu menjadi pengusaha yang sukses. Nenek dan Kakenya selalu mendukung Iwan dalam menggapai cita-cita nya tersebut. Setelah kelas 12, Iwan berharap masuk perguruan tinggi dengan mendapatkan beasiswa dari sekolahnya. Menurutnya, beasiswa sangat membantu sekali terutama untuk dirinya. Tetapi, beasiswa tersebut untuk orang yang pintar. Kemudian, Iwan belajar dengan giat dan penuh semangat demi mendapatkan beasiswa tersebut. Setelah itu, Ujian Nasional akan diselenggarakan bulan depan untuk kelas 12. Setelah itu, akhirnya Ujian Nasioanl pun dieselenggarakan. Siswa / siswi SMA 1 jakarta pun sudah siap dalam mengerjakan soal Ujian, termasuk Iwan pun sudah siap mengerjakan soal Ujian tersebut. Setelah semua Ujian selesai, siswa / siswi tinggal mengunggu hasilnya. Kemudian, hasil ujiannya pun keluar. Yang mendapatkan nilai tertinggi Ujian Nasional di SMA 1 jakarta yaitu Iwan. Iwan berhak mendapatkan beasiswa dari sekolahnya tersebut. Iwan pun senang mendengar kabar tersebut dan akhirnya dia bisa melanjutkan sekolahnya ke perguruan tinggi. Akhirnya cita-cita Iwan bisa tercapai menjadi pengusaha. Oh
All Rights Reserved
#989
motivation
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Don't Talk About Money
  • GRIZLEN {On Going}
  • FIRST TIME
  • 36 days with you {saida} [End]
  • S Class[On Going]
  • Constellations From The Room
  • Aku Ingin Bercerita
  • Asya Amarra [ By astar1913 ]
  • Complete (END)

Pernah ga sih? Kalian sekelas sama anak beasiswa yang ganteng banget, pinter banget, tapi juga sombong banget. Padahal dia tuh miskin banget :( Bukannya Irin judging nih, tapi pernah sekali waktu dia sekelompok sama Tama dan maksa buat kerkel di rumahnya untuk tugas akhir mata kuliah Bahasa Indonesia, dan Irin baru tahu, ternyata di Jakarta masih ada ya rumah yang base nya dari kayu tanpa di semen. Letaknya dalam gang kumuh yang bau sampahnya kemana-mana. Tapi jujurly, kalian ga bakal lihat Tama seperti lingkungannya itu, walau dia juga ikut milah sampah yang bisa di daur ulang atau bisa dijual lagi sama bapaknya, semua hal ini yang mendukung Tama mendapat beasiswa untuk berkuliah di universitas terbaik, di tempat yang sama dengan Irin, lewat jalur surat keterangan tidak mampu. Tapi Irin sangat kagum sama Tama, bukan karena wajahnya aja yang tampan, walau hidup Tama terlihat jauh lebih susah dari Irin yang turun naik Jazz ke kampus, Tama ga pernah sekalipun terlihat mengeluh, ga kaya Irin yang perasaan hidupnya ngeluh mulu, malah pinter juga masih pinteran Tama, makanya Irin suka sama Tama, kalo kata Irin sih suka aja, ga yang gimana-gimana, tapi Irin tuh jadi suka ngintilin Tama, minta sekelompok sama Tama, minta diajarin Tama, mau makan bareng Tama atau bawain bahkan beliin Tama makanan, nawarin Tama balik bareng, mau main ke rumah Tama, sampai Tama tuh jengah, dan dari situ Irin menyimpulkan Tama sombong berikut berpemikiran sempit. "Kamu bisa ga? Ga usah dekat-dekat dengan saya? Saya ga butuh belas kasihan kamu, Irin. Jangan bawain saya makanan lagi, ga perlu tawarin saya pulang bareng kamu karena saya bisa sendiri. Jangan masuk ke dunia saya karena kamu tidak cocok. Kamu tidak perlu menempatkan diri sebagai saya karena kamu tidak tahu bagaimana kehidupan saya berjalan. Tapi di luar semua itu, saya bisa menjalankan hidup saya sendiri, tanpa bantuan kamu" Tapi, prinsip Irin tetap satu sejak awal. "Kamu lihat aja, kamu bakal balik dan ngemis cinta sama aku!"

More details
WpActionLinkContent Guidelines