Nyra Jingga

Nyra Jingga

  • WpView
    Reads 404
  • WpVote
    Votes 24
  • WpPart
    Parts 10
WpMetadataReadComplete Fri, Sep 20, 2019
Namaku Nyra, kata orang-orang, aku gadis buruk rupa, kelas 2 SMA. Aku tak memiliki kelebihan apa-apa. Semua orang membenciku. Keluargaku, temanku, termasuk sahabatku. Ya, dulunya aku memiliki sahabat. Namun itu pun berakhir hancur. Aku hanyalah mencari seseorang yang dapat memelukku disaat-saat seperti ini. Rasanya sulit. Jingga! Ya, nama itu selalu menghantui fikiran dan rasaku, entah mengapa. Padahal aku tak tau siapa dirinya. Tapi aku tau, aku benar-benar mengetahui bahwa aku akan menemukan nama itu dalam hidupku. Namun entah kapan, fikiranku runyam ketika memikirkan kapan ku akan menemukannya. Hanya nama! Hanya sebatas nama. Akankah ku bertemu dengan Jingga yang selama ini kutunggu? Semoga saja 'iya'.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Sahabat, kenapa jadi suka?[On Going]
  • Berdamai Dengan Luka
  • DEVIAN [END]
  • ASRAR|
  • Menyimpan Rasa (END)
  • It HURTS
  • semesta membatu
  • Gendut!! Gue cinta sama lo
  • Kelas A [End]

Sejak kecil, kami selalu bersama. Aku tahu semua tentang dia, dan dia tahu segalanya tentang aku. Kami tumbuh di sekolah yang sama, menjalani hari-hari seperti biasa. Orang-orang bertanya, "Kalian nggak bosen bareng terus?" Jawaban kami selalu sama "Kami kan sahabat." Tapi entah sejak kapan, semuanya berubah. Tatapan itu, debaran itu, perasaan aneh yang seharusnya tidak ada. Aku, Belinda Ecalista, tidak boleh jatuh cinta pada sahabatku sendiri. Tapi kalau memang nggak boleh... kenapa rasanya sulit? --- Gue pikir, dia akan selalu jadi sahabat. Satu-satunya orang yang bisa bicara pada gue tanpa rasa takut. Orang yang selalu ada, tanpa pernah berubah. Tapi kenapa sekarang gue mulai merasa takut? Takut kehilangannya. Takut melihatnya jatuh ke pelukan orang lain. Gue, Bintang Narendra Dirgantara, seharusnya gak merasakan ini. Tapi kalau memang hanya sahabat... kenapa gue tidak rela melepaskannya?

More details
WpActionLinkContent Guidelines