WRITTEN : Meant to Be

WRITTEN : Meant to Be

  • WpView
    Reads 117
  • WpVote
    Votes 12
  • WpPart
    Parts 3
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Feb 18, 2018
"Dan aku menyadari bahwa namamu memang tertulis untukku.." Sebuah perasaan spesial mulai tumbuh di hati Haifa ketika ia pertama kali mengenal Adnan saat awal masa SMA tujuh tahun yang lalu. Ketika banyak gadis menyatakan cintanya kepada Adnan, Haifa memilih untuk menutup bibir dan bersembunyi, lalu memohon kepada Tuhan untuk menjaga laki-laki yang ia cintai. Dan pada akhirnya, Tuhan kembali mempertemukan keduanya. Hanya saja, terjadi perubahan drastis pada diri Adnan yang tak pernah Haifa duga. Tetapi tetap saja, perasaan itu entah mengapa tidak pernah bisa lepas dari Haifa. Terikat kuat begitu saja di dalam dirinya tanpa membiarkan siapapun dapat melepasnya, bahkan sampai sekarang. Membuat ia bertanya-tanya kapankah Tuhan akan mengakhiri perasaannya. Atau mungkin kah ini sudah menjadi bagian dari rencana-Nya? First Story by Yoo :)
All Rights Reserved
#144
friendships
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Suddenly Marriage
  • I'm Still Loving You
  • Proposal For Wedding
  • Surat Untuk Arabella
  • NAIK PELAMINAN [TAMAT LENGKAP]
  • Sweet RomanShit
  • Story of My Life With You
  • Marriage, Not Dating
  • The Man

"Mi, kemarin Pak Kades dan istrinya datang ke rumah. Dia ingin meminang kamu untuk menjadi istri anaknya," ucap Mama yang membuatku seketika langsung menghentikan kunyahan. "Mama kalau bercanda jangan pas lagi makan dong, nggak lucu kalau tiba-tiba aku tersedak terus meninggal," ucapku sambil tertawa. "Mama serius." Aku langsung melihat wajah mamaku, dari matanya aku bisa melihat keseriusan. Mendadak aku jadi merinding. "Jangan bercanda mulu dong, Ma, mana mungkin Pak Kades tiba-tiba melamar aku buat anaknya. Lagian aku nggak kenal sama anaknya Pak Kades," ucapku masih menyangkal kalau yang mamaku katakan bukanlah candaan. "Mama nggak lagi bercanda, Mi, Mama serius." Tenggorokanku serasa tercekat ketika mendengar perkataan Mama, "Ma, jadi ini serius?" Mama mengangguk dan itu membuat tubuhku seketika melemas. "Apa ini alasan Mama minta aku cepat-cepat pulang?" tanyaku yang dibalas anggukan oleh Mama. "Terus Mama jawab apa? Mama nolak 'kan?" tanyaku mulai was-was. "Ayah kamu sudah menerima, katanya nggak enak menolak tawaran Pak Kades. Kapan lagi 'kan kita bisa besanan sama orang terpandang?" Rahangku hampir saja lepas dari tempatnya saat mendengar jawaban Mama. "Nanti malam Pak Kades datang lagi ke sini sekalian bawa anaknya, mereka mau melamar kamu secara resmi." Aku semakin gila setelah mendengar sambungan perkataan Mama.

More details
WpActionLinkContent Guidelines