The Letter

The Letter

  • WpView
    Reads 11
  • WpVote
    Votes 1
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Jan 28, 2018
Surat-surat yang datang sudah lama itu baru saja dibuka Andi dengan senangnya. Ya tentu saja dia senang, surat itu datang dari wanita yang selalu dikaguminya sekaligus sahabatnya sejak kecil. " Zaman sudah canggih begini masih aja kirim surat, dasar si Marsa ini." pikirnya lucu. Diambilnya satu surat yang yang dibalut dengan kertas amplop coklat kayu bertuliskan tanggal dua minggu yang lalu. Dibacanya dengan pelan dan saksama, tulisannya masih sama seperti dulu ketika ia sering membantu Andi melengkapi catatannya. Namun, Andi yang mengenalnya sudah lama tersebut merasa aneh dengan isi surat itu. Dia pun mulai membuka beberapa surat lainnya yang dikirim Marsa yang selama ini tak dibacanya. " Apa yang terjadi dengan Marsa?" kata Andi lesu.
All Rights Reserved
#582
death
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Unfinished Fate [TERBIT]
  • Surat Untukmu
  • Lara yang tak kunjung USAI ||•ondah•||
  • My (boy) Friend | Bbyu Vol.1
  • Oh, My CRUSH! (TAMAT)
  • Scent Like Laven [HyungKi] [ShowKyun]
  • May I Love You?
  • RHEINAARA || Back From The Lost
  • My Sweet Polar Husband [End]
  • Love Forza (End)

Judul lama Gorgeous Stepmother Ibnu Anggoro-seorang duda anak dua-terpaksa menikahi Marsha Amalia Adinata karena sebuah tuntutan. Perbedaan usia yang demikian banyak membuat Ibnu pesimis kalau pernikahannya akan berlangsung lama. Namun, pemikiran awal Ibnu terpatahkan didetik pertama dia bertemu sang gadis. Ibnu jatuh cinta pada pandangan pertama. Sementara Marsha, si pemilik kehidupan sempurna. Menawan, pintar, kaya, si bungsu kesayangan keluarga, tentu saja meragu atas keputusan papanya. Dia sadar betul, begitu papanya meminta dia tak akan bisa menolak. Marsha yakin kehidupan barunya kali ini tak akan berjalan mulus seperti yang sudah-sudah, belum lagi dengan sikap Ibnu yang dingin kepadanya. Seiring berjalannya waktu, ditengah kebingungan Marsha akan lingkungan barunya, timbul rasa yang sulit dikenali Marsha. Dia yang tak biasa jatuh hati mulai panik saat perasaan itu dia yakini tertambat pada suaminya sendiri. Namun, gengsi yang membelenggu membuat Marsha berdiam diri tanpa tindakan, belum lagi dengan kenyataan pahit yang diterima Marsha. Akankah Marsha dan Ibnu saling mengakui perasaan masing-masing? Atau tetap berdiam diri dengan kesalahpahaman yang semakin menggerus pondasi yang sejak awal memang sudah rapuh?

More details
WpActionLinkContent Guidelines