Story cover for BROKEN HOME by thunderfree
BROKEN HOME
  • WpView
    Bacaan 286
  • WpVote
    Undian 15
  • WpPart
    Bahagian 4
  • WpView
    Bacaan 286
  • WpVote
    Undian 15
  • WpPart
    Bahagian 4
Sedang Ditulis, Pertama kali diterbitkan Jan 30, 2018
[UPDATE SABTU-MINGGU]
"karena dengan bersikap ceria, bisa menutupi kehancuran hati gue" -tirra valentika

"karena dengan dingin gue bisa menyembunyikan lemahnya hati gue" -farro erlangga.

"Gue tidak ingin jadi badboy, tetapi dengan seperti ini semoga bisa membuat orang tua gue mengerti perasaan gue" -Vicco william

"Bersikap diam membuat gue bisa menyembunyikan jati diri gue" -mikha bellina sanjaya

"Menjadi korban broken home bukan berarti masa depan gue hancur" -dimas adi wijaya

"Menjadi badgirl membuat gue membuat gue melupakan masa lalu" -hanin marrissa
Hak Cipta Terpelihara
Daftar untuk menambahkan BROKEN HOME pada pustaka anda dan menerima kemas kini
atau
#3sebuahtulisan
Garis Panduan Isi
You may also like
You may also like
Slide 1 of 10
Gadis Tteokbokki & Cowok Mochaccino (DITERBITKAN) cover
Surprise cover
ANJA [END]  cover
sebuah senyuman cover
VIOLETTA (Triangle Love) cover
KenSil (Kisah yang Belum Usai) ✓ cover
Bertahan atau pergi cover
Verronica (COMPLETED)  cover
𝐁𝐫𝐨𝐤𝐞𝐧 𝐇𝐨𝐦𝐞? {𝐄𝐍𝐃}  cover
My Halu Come True {Completed}✅ cover

Gadis Tteokbokki & Cowok Mochaccino (DITERBITKAN)

14 bahagian Cerita Lengkap

SEGERA DITERBITKAN Sebenarnya ini adalah idenya Liaa. Entah apa yang merasuki otaknya kali ini, sehingga memintaku untuk menulis. Aku tidak pandai merangkai kata-kata, apalagi menyelesaikan suatu cerita. Tidak seperti Liaa yang sangat menikmati saat-saat merangkai setiap paragraf dalam mengembangkan idenya. Bersenandika, mengolah diksi, menulis berbagai tema, dan menuntut pancaindra agar lebih peka. Bila satu paragraf saja membuatku termenung berlama-lama, apalagi satu novel yang sampai beratus-ratus halaman tebalnya. Aku bisa gila, Liaa. Namun, gadisku yang cerewet dan berambisi besar itu pasti akan memprotes, "Kamu pasti bisa, kok, jangan pesimis, deh! Belum apa-apa udah ngeluh. Nulis itu gampang, cuma kamunya aja yang gak mau usaha!" Begitulah Liaa, dia 'illfeel' dengan orang yang angkat tangan sebelum berjuang. Alih-alih memotivasi, malah muncrat juga omelannya. "Iya, Liaa. Jangan ngambek, aku cium, nih!" Ancamanku membuat pipinya seketika memerah bak kepiting rebus. Aku sangat buruk dalam mengembangkan ide cerita. Jauh dibanding Liaa yang bisa menyelesaikan dua novel sekaligus. Ya, novel-novel itu adalah kisah kami yang dia tulis. Tugasku cukup diam dan jangan membuatnya marah. Jika tidak, Liaa akan berhenti menulis dan mengomel seperti ibu-ibu kostan. Karena sejatinya waktu terbaik untuk menulis adalah 'mood' yang baik.