Too Long To (admit) Love

Too Long To (admit) Love

  • WpView
    Reads 30
  • WpVote
    Votes 7
  • WpPart
    Parts 3
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Mon, May 6, 2019
Telinga berdengung, selera makan tiba-tiba menghilang. Pergi diusir oleh detak jantung yang menggila. Tidak, bukan debaran cinta. Melainkan amarah yang tertahan. Aku marah pada sebaris kalimat yang meluncur mulus dari bibir pria paruh baya itu, kakek yang telah menjagaku sejak lama, saat aku belum bisa menyebut nama. "Minggu depan kalian akan menikah." Tenang saja kakek mengatakannya, seolah berbicara tentang menu sarapan besok pagi. Aku masih diam, tidak menggangguk, tidak pula menggeleng. Aku bukan jenis orang yang menampakkan emosi terang-terangan. Lebih suka diam dan memendam apapun yang kurasakan. Berbeda dengan laki-laki diseberang meja sana. Dia membanting peralatan makannya. "Aku menghormatimu, tapi tidak dengan kekonyolan ini." Dia berdiri, meninggalkan ruang makan penuh emosi. Dadanya berombak menjelaskan lagi amarah membuatnya kekurangan nafas. Kakek berteriak memerintahkannya duduk kembali, namun diabaikan. Tetap melangkah menaiki tangga menuju kamarnya. Bagus, setidaknya dia tidak bepergian saat dilingkupi emosi. Aku melanjutkan makan yang masih ada di piring. Sekalipun tiada selera, aku tidak suka membiarkan makanan bersisa. Kakek sedang menatapku. Meski tidak melihat, aku menyadari tatapan itu dan menghentikan suapan. "Kami masih SMA. Demi Tuhan, apa yang kakek rencanakan dibalik pernikahan kami ?" Kakek berkedip seperti baru menyadari. Benar, aku masih sekolah, laki-laki itu masih sekolah. Sangat wajar bila dia menolak keinginan kakek, apalagi disampaikan mendadak.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • BYE, MANTAN! (TAMAT)
  • EDAMAME [TAMAT]
  • Langkah baru bersama mu
  • ZiAron [END]
  • Males, ribet.
  • Perjodohan Berakhir Cinta
  • Don't call it love!

Suamiku tidak mencintaiku, saudari seayah beda ibuku ternyata seekor ular beracun, dan hidupku tidak baik-baik saja. Bahkan suami antagonis dalam sinetron murahan pun jauh lebih baik daripada suamiku yang membuatku sakit, sekarat, lalu mati. Benar-benar kurang ajar! Barangkali semesta menaruh simpati terhadapku hingga memberiku kesempatan kedua. Aku kembali ke masa sebelum terjerat pernikahan konyol dengan mertua yang sifatnya mengalahkan ibu tiri dalam serial picisan. Mengejar cinta suamiku? Humph! Mimpi! Aku tidak peduli dengan keluarga maupun suamiku. Kuputuskan meninggalkan mereka, menyepi ke pinggiran kota, dan membangun kehidupan baru yang ideal bagi orang sepertiku. Namun, memang dasar setan! Mereka masih saja mengganggu dan berharap aku akan bersedia mengorbankan kebahagiaanku demi sesuap kasih sayang semu! Sialan! Jambu! Beri aku ibu peri! Sekarang! "Mau jadi menantuku, Sayang?" Tetanggaku, seorang nenek mencurigakan yang mungkin saja penyihir, menawarkan cucunya kepadaku. Memangnya apa yang bisa kulakukan? Tentu saja menerima pernikahan tersebut! Dengan begitu mantan suami dan mantan keluarga yang berengsek itu takkan bisa menyentuhku. Jenius! "Sayang, yuhuuuuu! Aku datang!"

More details
WpActionLinkContent Guidelines