
Pemberitahuan yang tidak pernah diinginkan. Sebuah kisah mengejutkan dialami oleh seorang gadis cilik. Menjalani hari-hari normal dirasakan cukup baginya. Namun yang menurutnya normal tidak menurut orang lain. Kala mentari mengijinkan pergantiannya dengan rembulan. Kala cahaya yang menyorot ke kamar meredup berubah sedikit gelap. Di titik itulah pengalaman baru tersaji dengan unik. Aming nama gadis ini, dia anak kedua dari tiga bersaudara yang lahir dan tinggal di kota Ikhlas. Lahir dengan latar belakang tak terduga. Ia melihat dunia sebelum waktunya. Tahun 1989 begitu keluar menyaksikan keanekaragaman manusia hanya terdiam selama setengah jam. Matanya berkedip, mengamati sekitar. Bibirnya terkatup, menahan suara tangis. Predikat bayi bisu pun sempat disematkan tenaga medis karena tidak berekspresi secuilpun. Leluhurnya kumpulan orang sakti di kota Ikhlas. Makam leluhurnya masih dijadikan makam yang dihormati. Aming kecil tumbuh dan berkembang dengan banyak air mata kedua orang tuanya. Bagaimana bisa? Ya, terang saja banyak mengalir tumpahan pilu ketika mendapati buah hati selalu keluar dan masuk rumah sakit sampai suster hafal nama Aming. Setiap satu lompatan pendek, satu suster yang berpapasan menyebut namanya. Mau operasi, menunggu giliran, dokter memanggil sayang namanya. Mau keluar untuk melarikan diri dari kenyataan hidupnya, ditegur security. Sungguh lika-liku yang menggerogoti tawa di wajahnya. Berada di rumah sakit, tentu saja bukanlah hal mengasyikan. Setiap hari makan bubur, minum susu putih padahal tidak suka, makan buah padahal kenyang, infus disuntik di akhir obat masuk sensasi pahit di lidahnya menguat bagaikan minum jamu sambilata. Baju biru bertali di bagian perut menjadi baju yang harus ia gunakan sejak bayi, sekolah dasar kelas satu hingga kelas lima. Dari radang usus, operasi amandel, tipes, demam berdarah, malaria, bahkan gondok. Aming kecil selalu mengingat setiap pertarungannya melawan rasa penasaran. Dimanapun ia pergi ada cerita baru.All Rights Reserved
1 part