Di bawah Air

Di bawah Air

  • WpView
    Reads 20
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadComplete Mon, Feb 5, 2018
Menginjak lokasi yang tidak pernah dikunjungi. Memandang luas ke sekeliling. Merasakan keeksotisan elemen air, sungguh menenangkan. Sejak memantapkan diri untuk tinggal di sekitar daerah berair. Pengalaman yang terbaharui masih berdatangan. Dari kos yang memiliki desain tiga lantai. Persis di atap bagian untuk menjemur pakaian tepatnya ke arah pepohonan lebat. Di tangga untuk ke lantai dua. Di depan jendela kamar. Di depan kos yang tepatnya di dalam sumur. Sampai jembatan di atas sungai yang kecil arusnya. Satu demi satu terungkap baik analitik maupun dramatik. Dialami sendiri sampai ada orang lain yang mengalami kejadian yang sama. Berfokus pada pencapaian prestasi sebagai mahasiswa muda ternyata tidaklah cukup. Harus juga bersuka cita mengalami gesekan dengan dimensi lain di sekitar tempat berteduh. Tidak semua yang diceritakan akan dipercaya, karena tidak semua orang mengalaminya. Dikatakan dusta, namun memang seperti itu keaslian kisahnya. Menangkis kenyataan yang dihadapi tidaklah mungkin. Sudah tersurat dari asalnya. Melihat, mendengar, merasakan. Berpapasan, mengamati, hingga berpura-pura tidak tahu bahkan berpura-pura tidak mendengar. Sandiwara bukan hanya ditonton, ditampilkan manusia terhadap manusia lain. Tetapi juga ditampilkan oleh manusia terhadap bentuk lain dari kehidupan. Merasa nyaman di kamar sendiri karena telah dibacakan doa yang membentengi diri dari ketidaksiapan berteriak ataupun diam membisu tanpa kata. Duduk mengacaukan pikiran agar bisa serius mengerjakan tugas. Memasang keras speaker dan memutar lagu yang keras juga untuk mengalihkan suara-suara tak jelas. Entah darimana asal-usulnya. Menyanyi keras sampai tenggorokan sakit untuk mengesampingkan intimidasi juga bisikan parau yang menggema di telinga. Banyak yang tinggal, bersenda gurau. Banyak yang melakukan hal negatif. Banyak yang tidak serius beribadah. Banyak yang hanya memikirkan dan berpacaran bebas. Banyak pula yang menyaksikan hal porno. Banyak juga yang pulang parah.
All Rights Reserved
#16
nalar
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Riuh Dalam Sunyi
  • Tepian Semu || Lilynn✅
  • BERKELANA DI LABIRIN [End]
  • The Silence That Shaped Me
  • Velmora Selphine
  • Sin-yuka Imperio
  • Ms. Moody & Mr. Arogan[STILL ON PROGRESS]
  • Buku Ini Gak Konsisten, Tapi Ya Sudahlah
  • Dalam Diam | Hiatus

Aluna hidup di bawah bayang-bayang ekspektasi yang tak berujung. Orang tuanya menuntut kesempurnaan, lingkungannya memujinya sebagai sosok ideal, tetapi di dalam dirinya, Aluna merasa rapuh. Setiap langkahnya bagai napas yang terhenti, takut akan kesalahan yang bisa mencoreng nama baik keluarganya. Namun, di balik semua itu, ada luka yang tak pernah sembuh, kerinduan pada kebebasan yang hanya bisa ia temukan dalam sunyi. Di sekolah, Aluna dihadapkan pada konflik dengan teman-temannya, yang perlahan-lahan membuka mata bahwa dunia tidak sehitam putih yang ia bayangkan. Di rumah, hubungan dengan keluarganya perlahan retak ketika ambisi orang tua mulai mengorbankan perasaan dan mimpinya sendiri. Ketika Aluna mulai mempertanyakan apa arti bahagia, ia dihadapkan pada pilihan sulit: bertahan dalam riuh yang menyakitkan atau melepaskan segalanya untuk menemukan sunyi yang menenangkan. Namun, apakah ia cukup kuat untuk melawan? Ataukah ia hanya akan menjadi seorang gadis yang tenggelam dalam ekspektasi, tanpa pernah benar-benar menemukan dirinya sendiri?

More details
WpActionLinkContent Guidelines