
Perjumpaan tak pernah diminta. Perpisahan tak pernah diinginkan. Tetapi setiap yang disatukan pasti akan juga dipisahkan. Ambon dan Semarang. Menjadi saksi dari dua pribadi yang berbeda latar belakang, namun hampir sama kisah hidupnya. Tika dan Lia. Berangkat dengan modal nekat, dua pribadi ini bertemu di satu lokasi ekskul yang sama. PMK atau persatuan mahasiswa katanya. Ekskul yang memadai untuk setiap mahasiswa yang hobi berdendang, bermain alat musik, dan tebar pesona. Oh ya lupa juga cari jodoh, karena di ekskul ini sama seperti satu program televisi yakni kontak jodoh. Tika berasal dari keluarga yang bercampur. Papah orang Jawa Tengah, Mamah orang Ambon campur portugis. Adik dua laki-laki semua. Lia berasal dari keluarga yang bercampur. Papah orang Sulawesi Utara campur tiongkok, Belanda, Mamah orang Jakarta. Kakak satu dan Adik satu. Bersama-sama masing-masing berada di keluarga besar yang juga bercampur kepercayaan. Islam, Kristen, Katholik, Konghucu. Membuat mereka berdua tumbuh menjadi pribadi yang fleksibel, menjunjung tinggi kata toleransi. Mengejar gelar sarjana di universitas yang membuat mereka satu-satunya pribadi beragama kristen tidak semata-mata menjadikan mereka pribadi yang dikucilkan. Sebaliknya justru mereka dipercaya oleh dosesn, teman-teman mereka. Berkenalan saling memahami setiap detail kesamaan dan perbedaan. Dari menjadi asisten dosen, sampai dianggap enak oleh dosen. Tika mengambil jurusan fisika dan Lia mengambil jurusan sastra indonesia. Dua orang ini sama-sama menjadi pawang di universitasnya. Dari anak-anak, remaja, orang tua, lelaki, perempuan, dan kakek nenek. Di satu kelas ke kelas lain. Dari satu gedung ke gedung lain. Dari satu kos ke kos lain. Di pinggir jalan, lapangan, pohon, hingga tanah kosong. Setiap kaki melangkah, mata tertuju pada satu titik. Mungkin tidak diiringi dengan bulu kuduk yang merinding atau berdiri, namun tiba-tiba mereka melihat yang seharusnya mereka lihat. Terkadang dengan persiapan matangAll Rights Reserved
1 part