Iqbaal, remaja yang terkesan sombong dan banyak tingkah itu selalu membuat masalah di mana-mana. Baginya semua hal terlalu sederhana untuk ditaklukkan.
"Nanti, ketika lo mau kemanapun, berapa lamapun, atau tidak akan kembali, bahkan mau mati di dalam perjuangan lo, bilang sama gue ya, Baal. Biar gue enggak ngerasa sendirian. Janji kan sama gue?"
Iqbaal hanya bungkam dalam diamnya, ia tidak mungkin mengiyakan dan tidak mungkin menolak permintaan tulus dari mata coklat tua itu.
Nareshta Ravaleon Arkana, si tampan populer di SMA Ganesha. Playboy sejati yang tak pernah kehabisan daftar nama cewek untuk ditaklukkan. Baginya, cinta adalah permainan dan perempuan hanyalah selingan. Semua bisa datang dan pergi ... kecuali satu. Askara Renaffea, sahabat sekaligus satu-satunya cewek yang tak pernah bisa ia sentuh sepenuhnya, tapi juga tak sanggup ia lepaskan.
Kara adalah tempat Naresh pulang tanpa pernah diberi kepastian. Ia satu-satunya yang membuat Naresh memiliki rasa peduli bahkan posesif. Tapi perhatian itu nyatanya bukan anugerah melainkan jerat tak kasat mata. Kara terjebak di antara harapan dan kenyataan yang tak pernah berpihak.
Naresh tak pernah bilang cinta. Tapi tak rela melihat Kara dimiliki orang lain.
"Lo suka sama gue?" tanya Kara.
" Nggak! Tapi lo tetep punya gue!"
"Lo egois, Resh."