LONELY

LONELY

  • WpView
    Membaca 23,403
  • WpVote
    Vote 1,164
  • WpPart
    Bab 43
WpMetadataReadLengkap Sen, Jun 22, 2020
Ketika seluruh dunia tidak peduli pada lukaku dan ketika dunia berpihak pada sang durjana, aku terdiam. "Kenapa?" tanyanya. Karena itu hanya khayalanku. Aku yang merasa terlalu baik. Saat semua hal adalah kejahatan dimataku. Saat aku menjadi membeku. Hatiku dan ragaku. Ketika hatiku terus berdebat, namun aku masih ditempat. Aku harus berjalan kemana? # 2 - kilasbalik (30-04-22) # 2 - sweetseventeen (19-05-22) # 10 - rain (23-08-22) # 15 - alone (20-08-22) [ Note: COMPLETE ] © sphprmtsr 2020
Seluruh Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
#98
alone
WpChevronRight
Bergabunglah dengan komunitas bercerita terbesarDapatkan rekomendasi cerita yang dipersonalisasi, simpan cerita favoritmu ke perpustakaan, dan berikan komentar serta vote untuk membangun komunitasmu.
Illustration

anda mungkin juga menyukai

  • Archetypal [Terbit]
  • [WPS#1] Shillavand [COMPLETED]
  • Darrel My Bad Husband [Terbit]
  • about us and him ✔️
  • 【𝑾𝒊𝒍𝒍 𝑩𝒆 𝑴𝒊𝒏𝒆?】
  • Sederas Hujan
  • ALEYA~~
  • Rintik Hujan
  • ℂ𝕠𝕟𝕧𝕖𝕟𝕚𝕖𝕟𝕔𝕖

[WARNING! 18+] [DISTURBING, VIOLENCE, TRIGGER CONTENT!] * Apa yang istimewa dari hidup? Jika pertanyaan itu diberikan pada Ruby, maka jawabannya tidak ada. Memang tidak ada yang istimewa. Berkabut kelabu semua. Rumah, tempat yang seharusnya jadi sahabatnya untuk terus hidup itu sudah lama rusak. Keluarga, yang seharusnya jadi lentera juga sudah lama padam, yang tersisa hanya dingin, beku, dan sesak. Jadi, semua hal di dunia ini bagi Ruby hanya susunan konstelasi kosong yang sudah lama mati dan gelap gulita. Hingga siang itu, di bawah pohon rambutan tua itu, seorang anak laki-laki seusianya datang menyerobot duduk di samping Ruby seperti orang gila---atau mungkin memang demikian karena ini rumah sakit jiwa. Dia mengulurkan tangan dan berkata, "Aku Navi Renggana. Kenapa wajahmu ditekuk terus? Mau bercerita? Tenang saja, aku ini orang gila." ©️Mayaothra 240721

Detail lengkap
WpActionLinkPanduan Muatan