INFITHAAR - Half from True Story

INFITHAAR - Half from True Story

  • WpView
    LECTURAS 1,294
  • WpVote
    Votos 242
  • WpPart
    Partes 16
WpMetadataReadConcluida vie, jun 14, 2019
WpInfo
Ficción
Romance
Infithaar /Al-infithaar/ Terbelah, Hancur, lenyap sudah harapan indah, hancurnya kenangan lama, timbulnya hati gundah gulana. Jika semuanya sudah retak, hancur, dan lenyap, apa mungkin semua bisa kembali seperti semula? Seperti kaca yang telah pecah, rapuh, dan dibuang, kita tidak akan pernah bisa merubah kaca itu menjadi seperti semula Begitupula dengan kayu yang telah patah, telah gugur dari pohonnya, apakah kita bisa menyambungkan kedua kayu ini seperti sedia kala? Ini ceritaku, cerita tentang diriku Dari keseharian yang kelam, aku ingin hidup bahagia seperti anak usiaku pada umumnya. Aku ingin mencari kebahagiaan semu di dunia ini. Aku ingin mencari ketenangan ditengah pahitnya hidup. Dari keseharian yang kelam pula, aku mulai belajar apa itu melepaskan, aku mulai belajar tentang pahitnya hidup, tentang keikhlasan, dan tentang kesabaran. Awalnya aku belum mengerti apa itu brokem home? Apa itu perceraian? Tetapi disaat aku mulai mengerti, dari sini lah ceritaku di mulai.
Todos los derechos reservados
#531
funny
WpChevronRight
Únete a la comunidad narrativa más grandeObtén recomendaciones personalizadas de historias, guarda tus favoritas en tu biblioteca, y comenta y vota para hacer crecer tu comunidad.
Illustration

Quizás también te guste

  • Kami Tumbuh Dari Ledakan
  • Senja yang mendung
  • Become an Extra or Main Character [END]
  • [✔️terbit] 1. The Girl That Hurt
  • Me And His Hopes
  • FIZYA
  • Not Always Alone (Sudah Terbit)
  • Duka Devara
  • Memories in Moon

Di sebuah rumah yang lebih sering berisik oleh bentakan daripada tawa, tiga anak tumbuh dari puing-puing cinta yang retak. Ara, si sulung yang belajar menjadi atap saat bapaknya lebih sering pergi ketimbang tinggal. Rei, anak tengah yang mencoba menjadi lelaki tanpa pernah punya contoh. Dan Zea, si bungsu yang bersembunyi di balik boneka bermata satu sambil bertanya dalam hati: "Apa semua rumah seperti ini?" Saat rumah yang dulu mereka sebut "pulang" tak lagi memberi tempat, satu per satu dari mereka harus memilih: tinggal dalam reruntuhan, atau membangun sendiri pondasi baru-meski dengan tangan gemetar. Ini bukan kisah keluarga yang sempurna. Ini kisah tentang bertahan meski tidak utuh, tentang anak-anak yang tak ingin mewarisi luka orang tuanya. Dan tentang keberanian untuk berkata: "Ledakan itu berhenti di sini." Karena tumbuh dari kehancuran... bukan alasan untuk mencintai dengan cara yang menyakitkan.

Más detalles
WpActionLinkPautas de Contenido