ThEnding

ThEnding

  • WpView
    Reads 64
  • WpVote
    Votes 8
  • WpPart
    Parts 4
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Wed, Aug 15, 2018
"Akan ada waktunya hatimu yang membeku itu luluh." Seorang gadis yang tidak tahu betul bagaimana cara mengekspresikan perasaannya, dan menjalani hidupnya di SMA dengan penuh persahabatan saja. Banyak orang bilang kepadanya jika masa-masa SMA adalah masa-masa terindah, apalagi jika setiap hari diisi dengan sang pujaan hati atau bahasa yang lebih dikenal dengan sebutan gebetan. Tapi tidak oleh seorang perempuan yang memiliki rambut lurus sebahu dengan poni imut yang menutupi jidatnya itu. Sidney Aufa Shabila. Awalnya begitu, tapi semua itu berubah dengan kehadiran seseorang yang membuat hatinya perlahan-lahan luluh. walau ia sadar, semuanya sudah terlambat. Ingat, ending cerita seseorang tidak selalu happy ending-apakah ending cerita Sidney bisa berjalan lancar seperti cerita pada novel-novel romansa lainnya?
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Elegi Rasa : Pergi
  • Just Friend
  • Senja dan Angkasa
  • Backstreet [END] Publish Again
  • Certainty [REVISI & TERBIT]
  • {Bukan} Sahabat Jadi Cinta
  • Rewrite the Start
  • Different Way
  • Kelas A [End]
  • SUNSHINE

Kadang menjadi begitu terlambat menyadari sesuatu akan membekaskan rasa sakit yang tak lekang oleh waktu. Saat cerita yang kelewat singkat dilalui menghantarkan pada sakit yang menghantui. Safir sudah merasakannya. Dua kali dalam hidup ia seperti dipermainkan rasa. Nila yang tak mau melihat. Dan Bianca yang pergi pada sesuatu yang tak terlihat. Ketika sepi melanda. Bukannya pada dunia yang luas, hanya pada dunianya sendiri yang tiba-tiba runtuh. Safir merasa begitu buruk di mata Bianca. Merasa begitu lelah di hadapan Nila. Dan malam itu, harusnya ia berusaha lebih keras. Saat si gadis berkata, "Aku pamit pulang, ya." Harusnya Safir membujuk lebih tegas. "Biar aku yang antar." Kenyataannya, Safir menjadi begitu terlambat. Saat rasa itu mulai tertambat. Hatinya justru sakit tanpa ada yang membebat.

More details
WpActionLinkContent Guidelines