Rain
  • WpView
    Reads 112,321
  • WpVote
    Votes 5,377
  • WpPart
    Parts 57
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, Apr 26, 2024
Dia Mentari. Kehidupannya yang tak lepas dari sketchbook dan menggambar. Mentari suka hujan. Katanya, dia bisa ikut menangis tanpa ketahuan oleh orang lain. Di sekolah, Mentari tak punya banyak teman. Dia sudah biasa sendiri. Mentari tak suka teman-teman palsu yang akan membicarakannya di belakang, lalu tersenyum semanis mungkin di hadapannya. Mentari hanya butuh orang-orang yang tulus kepadanya. Tapi, Mentari tidak menyangka jika dia akan mendapatkan pelajaran tambahan dalam hidupnya. Pelajaran hidup yang ternyata bisa dia dapatkan dari orang-orang di sekitar. Pandu salah satunya. Pandu Elangga Gerhana. Dia ketua OSIS. Kata Mentari, dia ketua yang otoriter, pandai cari muka di depan warga sekolah. Tapi pada kenyataannya ada hal lain yang membuat Mentari tak bisa melihat Pandu hanya dari satu sisi saja. Pandu juga suka hujan. Banyak yang bilang kalau hujan bikin subur tanaman. Pandu rasa mereka keliru. Kadang ada juga tanaman yang nggak subur karena hujan. Tapi yang bisa Pandu pastikan ketika hujan adalah kenangan. Dan Bandung, kota paling puitis bagi sebagian orang. Juga hujan, pelengkap paling romantis untuk Bandung. ©2018 Wyffa Jessica Cover by @Ecenggondhok
All Rights Reserved
#493
boyfriend
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • I Hate Rain
  • Rain Drops ( On Going )
  • My Home [Hujan Series]
  • VAGALDARA [TERBIT]
  • Lovakarta
  • MARKA; yeonbin AU
  • I LOVE RAIN🌧
  • LOVE 21 DAY

[ #1 in Rain, 01-09-2018 ] [ #20 in Teen Lit, 11-09-2018 ] [ #51 in Teen Fiction, 11-09-2018 ] Di saat aku membenci hujan, dia datang. Dia datang dengan segala intuisinya tentang hujan. Dia datang dengan segala kecintaannya dengan hujan. Aku jatuh cinta padanya. Sama seperti aku mencintai hujan karenanya. Tapi di hari itu, ia menghilang. Aromanya tak tercium lagi. Jejaknya sudah tak nampak lagi. Syahdunya tak terasa lagi. Ia pergi sebelum aku benar-benar memilikinya. Ia pergi sebelum aku benar-benar mempercayainya. Ia pergi meninggalkan rasa dan juga tanda tanya. Dan, di mana tepat pada 228 hari aku mengenalnya, aku baru mengerti semuanya. Tentang beberapa hal yang sengaja dia sembunyikan, dan juga tentang kenapa dia menyembunyikannya. Saat itu, aku merasakan kehadirannya. *** "Tentang seberapa pentingnya menutup rapat lembaran lama, tatkala lembaran baru mulai terbuka." -Syachwaldan Rizky

More details
WpActionLinkContent Guidelines