Story cover for TIRAMISU by Lesssugar18
TIRAMISU
  • WpView
    Reads 7,683,033
  • WpVote
    Votes 862,979
  • WpPart
    Parts 37
  • WpView
    Reads 7,683,033
  • WpVote
    Votes 862,979
  • WpPart
    Parts 37
Ongoing, First published Feb 12, 2018
Umur kamu berapa?
Sudah punya pacar?
Kapan nikah?
Temen kamu udah punya anak lho, nggak ada niat nyusul?
Kerja terus kapan ke pelaminannya?

Kaila merasa pertanyaan seperti itu lebih mengerikan dibanding nonton film horror sekalipun, semua orang terlalu sibuk bertanya mengenai masa depan. Sampai lupa bertanya pada diri sendiri, apa mereka sudah bahagia dengan hidupnya sendiri?

Untuk ukuran seorang perempuan yang selalu merasa wild young and free, Kaila tak terlalu mempedulikan cemoohan orang. Yang terpenting adalah kalau ia hidup bahagia.

Kaila, 26 tahun. Accountant, Jakarta, Hangout, Gossip, and Single.
All Rights Reserved
Sign up to add TIRAMISU to your library and receive updates
or
#16office
Content Guidelines
You may also like
You may also like
Slide 1 of 9
BEST OF US - TERBIT CETAK cover
A-KU & A-MU cover
Perjodohan paksa || jaemnnie cover
Why You're Not Married Yet? [Proses Terbit] cover
Office Hours cover
Kumpulan Novelet Romansa (one shoot) cover
Menunggu Pagi [FIN] cover
Say Bye cover
Setelah Kita Delapan Belas Tahun cover

BEST OF US - TERBIT CETAK

23 parts Complete

TERSEDIA DI TOKO BUKU SEBAGIAN PART SUDAH DIHAPUS Aku nggak mengerti bahwa sebuah kisah cinta bisa seperti ini. Sungguh, dulu aku hanya gadis polos yang tak pernah peduli pada cinta sejati. Di dunia ini, hanya ada 2 pria yang tadinya kupikir akan jadi pendamping hidupku: dr. Riza yang maha sempurna atau fotografer terkenal, Jerro Atma. Tapi lihat sekarang apa yang kulakukan. Galau habis-habisan menunggu orang yang tak pernah kuperhitungkan pulang ke Indonesia. Pria brengsek yang menjadikanku pacarnya dua jam sebelum keberangkatannya ke Amerika. Gila kan? Mana katanya dia akan sering-sering pulang? 6 bulan sekali my ass! Sudah hampir 2 tahun dan dia tidak pernah menunjukkan tanda-tanda dia mau pulang. Tapi sudahlah. Toh memang aku sendiri yang gila, mau-mau saja menunggunya. Ya bagaimana, namanya juga sayang. Kupikir mudah saja menunggu. Ngomong-ngomong, aku cukup jago dalam mempertahankan perasaan. Tapi baru kali ini aku sadar, bahwa menunggu dan bertahan tak semudah kelihatannya. Apalagi, saat kamu tidak tahu yang sebenarnya apakah dia layak ditunggu atau tidak. Dan saat kamu sibuk bertanya-tanya, ada orang lain yang punya jawaban masuk akal. [Lanjutan dari When You Tell Me That You Love Me]