Gue gak tau kenapa gue ini orangnya peduli banget sama orang. Padahal kenal aja enggak. Kata orang tingkat kepedulian gue ini patut diacungi jempol. Lagi, gue paling gak bisa diem orangnya. Kalo ada yang gak srek dihati, gue pasti sok-sokan ngasih nasehat. Sok-sokan deh pokoknya.
Belum pernah ada orang bisa buat jantung gue sebegininya. Jantung gue berasa mau meledak pas liat dia. Padahal sebelumnya gak begini. Dia yang sering buat masalah,rusuh, nyebelin, tengil, jail, nakal, aneh, suka TP-TP(tebar pesona) sama semua cewek bikin gue ilfil. Gue yang selalu berantem sam a dia kalo ketemu kini berubah menjadi gue yang berusah menghindar dari dia kalo ketemu. Ini aneh. Rasa apa ini? Gak mungkin kan gue suka sama dia? Dia yang buat hati gue, jantung gue, pikiran gue, tingkah gue jadi aneh. Dia,,, Deka Mahendra.
~isi hati Dhea Adinda Putri
~Saran gue, jangan terlalu benci karna benci tu bisa ngerubah semuanya. Oke???
Memilih jodoh tak seperti melempar dadu. Aku sudah super hati-hati, ketika akan memutuskan Ghani menjadi suamiku. Tetapi Tuhan punya rencana lain.
Ketika Ghani dalam keadaan tak berdaya, koma dan amnesia. Aku jadi berpikir ulang. Semakin tak tega untuk mencampakkan begitu saja. Aku tak tahu, apa ini cinta atau bukan. Yang jelas rasa itu hadir mengikat hatiku.
Ghani bagiku saat ini tak lagi seperti pakaian. Jika tak cocok, aku mengganti yang lain.Bahkan, hari demi hari aku tak ingin jauh darinya. Aku tak ingin sewaktu-waktu jika ia dipanggil-Nya, aku luput dari sisinya.
Terkadang aku tak mengerti banyak hal tentang diriku sendiri saat ini. Sejak Ghani bernasib naas, aku merasa berdosa besar dan sulit untuk memaafkan diriku atas niat burukku dulu pernah menuntutnya bercerai.
Kini, justru sebaliknya, aku seperti telah jatuh cinta untuk kedua kalinya, tanpa syarat, sampai tertawan, hingga berserah tanpa bisa melawan.
Aku mengizinkan hatiku mengalir bersama keterbatasannya, tanpa alasan jelas, bahkan cenderung absurd. Ada rasa kasihan dan iba yang luar biasa. Seperti gaya percintaan kakek nenek yang telah menua dan renta.
Terkadang kuberpikir apakah hubungan suami istri seperti ini yang ideal? Tak mudah lekang oleh pancaroba. Dibanding yang didasari hitungan untung-rugi dengan mengatasnamakan cinta?
Yang tak kumengerti sampai saat ini, mengapa aku semakin takut kehilangan Ghani? Sampai aku tak mampu lagi mengindetifikasi perasaanku ke Ghani, apakah aku mencintai atau mengasihani?