EMILY : THE OTHER SIDE OF ME

EMILY : THE OTHER SIDE OF ME

  • WpView
    Reads 45,208
  • WpVote
    Votes 172
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Feb 24, 2018
WpInfo
Fiction
Romance
Emily dan kotaro dalam pelariannya menyamar sebagai mahasiswa di sebuah kampus ternama di korea. Emily dan kotaro mendapatkan identitas baru. Menyamar sebagai orang korea, ternyata Emily mendapatkan kejutan yang tidak menyenangkan dari mahasiswa senior di kampusnya, dari menjadi korban bully dan terlibat kisah cinta antar kepala gangster di universitas tersebut hingga persaingan antara mahasiswi cantik. Secara tidak sengaja Emily masuk ke sebuah ruangan tempat para dekan berkumpul. Dan Emily melihat sosok Carlo tengah duduk, membaca buku tebal yang bertuliskan " Akutansi 101" dan tengah membenarkan kacamatanya. oh tidak.... apakah itu benar-benar Carlo???
All Rights Reserved
#655
teenlit
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Tingkat Tiga
  • an Idiot Senior [Xiumin of EXO fanfic]
  • MY M3SUMM Boyfriend (COMPLETE)
  • Stay (Away)
  • Collage Life || Lee Taeyong {Complete}
  • GADIS (Lengkap belum revisi)
  • Princess of My Heart [Completed]
  • Kukira Kau Rumah, Ternyata Hanya Tempat Singgah:)
  • The Beauty Inside(Complete)

"Kenapa ya mbak ada orang yang cakep banget gini di dunia?" jawabnya sembari menunjuk ke arahku. Mataku membulat. Bukan karena dia mengataiku sebagai perempuan yang cukup cantik, namun karena perubahan panggilan yang dia berikan padaku. "Mbak?" tanyaku memastikan. Alih-alih menggeleng atau mengelak, Rafka justru langsung mengangguk. "Iya. Mbak Caca." "Ngapain ikut panggil gue mbak?" "Biar lebih deket aja. Lo kan dipanggil mbak sama Keenan." "Ya dia kan adik gue." Balasku sengit. "Ya gue mau ikutan, Mbak. Kedengaran lebih gemes." Aku memutar bola mata jengah. "Gemes-gemes apaan. Lo mau jadi adik gue juga?" "Kalo jadi pasangan lo aja gimana?" "Kalo gitu jangan panggil mbak." Rafka menegakkan tubuhnya. "Lo serius?" "Soal apa?" "Lo mau jadi pacar gue." "Siapa yang bilang?" tanyaku berpura-pura bingung. "Tadi kak. Lo bilang gue jangan panggil lo 'mbak' kalo nggak mau dianggap jadi adik." "Artinya lo mau kan jadi pacar gue?" lanjutnya menuntut jawaban.

More details
WpActionLinkContent Guidelines