A Miracle

A Miracle

  • WpView
    Reads 54
  • WpVote
    Votes 11
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Tue, Mar 20, 2018
Takdir yang bergulir, pertemuan singkat, fantasi tak berujung. Dari 1001 kehidupan dan dari 1001 dunia, juga dari berbagai bentuk kenyataan... tetap aku akan memilihmu. "cinta pertamaku bukan dari dunia yang sama denganku? " -Ferisha Jesslyn "aku tak bisa selamanya disini, ini bukan tempatku semestinya berada, maaf aku harus pergi." - David Nathaniel Arlando "aku bakal buat kamu lupain dia, aku Cinta sama kamu sejak dulu... tapi kamu memilih dia, awalnya aku ikut senang karena kamu juga kelihatan bahagia, tapi apa yang dia perbuat setelahnya itu tidak bisa dimaafkan." - Reynard Bastian Putra. Bahasanya campur aduk/ga jelas
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • In Someone Elses Shadow
  • ALTERITY : Jiwa Yang Tak Sama ( Seri 1✅, 2 ✅, 3 ⏳)
  • A Cup of Signs - Secangkir Kiasan
  • Terima kasih Ravindra
  • Jejak Hati di Persimpangan Takdir
  • YEON ^26^
  • Di Antara Mereka
  • Twinblossom
  • Karena Kamu Rumahnya
  • 𝐄𝐧𝐠𝐢𝐧𝐞𝐞𝐫𝐞𝐝 𝐓𝐨 𝐁𝐚𝐛𝐲𝐬𝐢𝐭 |ᴛᴇᴇᴅᴇᴡ {√}

"Waktu kedua kalinya kita bertemu, kau berkata bahwa mari menjadi lebih dekat satu sama lain. Then why did we change?" Dennis tidak pernah menyangka kalau satu ciuman di malam itu akan mengubah segalanya. Dulu, Mark hanyalah seseorang yang sering ia lihat di kantin kampus-tertawa bersama teman-temannya, menantang orang untuk bermain basket, atau terkadang tidur siang dengan buku terbuka di dadanya. Seseorang yang seharusnya hanya sekadar 'ada' dalam hidupnya, tidak lebih. Namun, semua berubah sejak perjalanan ke villa itu. Sejak malam di mana bibir mereka bertemu, sejak rasa yang tidak pernah Dennis sadari sebelumnya perlahan tumbuh tanpa bisa ia hentikan. Sekarang, dia duduk di sudut perpustakaan, mencoba membaca buku di hadapannya, tapi pikirannya melayang. Mark masih sama seperti dulu-tersenyum dengan cara yang membuat dadanya sesak, menatapnya dengan tatapan yang sulit ditebak. Tapi ada sesuatu yang berbeda di antara mereka. Sesuatu yang menggantung, tidak terucapkan, seolah hanya menunggu salah satu dari mereka untuk mengakhirinya atau membiarkannya terus ada. Dennis menghela napas, menatap ke arah Mark yang duduk di seberang meja. Matanya bertemu dengan milik Mark sesaat sebelum pria itu tersenyum tipis-senyum yang membuat perutnya terasa aneh. Kapan semuanya menjadi serumit ini?

More details
WpActionLinkContent Guidelines