Pertemuan singkat, tapi berkesan.

Pertemuan singkat, tapi berkesan.

  • WpView
    Reads 54
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Tue, Feb 20, 2018
WpInfo
Fiction
Romance
Mungkin aku bukan lagi seseorang yang tangannya akan kau genggam saat kita berjalan beriringan. Bukan lagi seseorang yang ingin kamu temui. Atau, bukan seseorang yang kamu rindukan. Tapi, aku tidak akan berhenti mendoakanmu. Apa yang telah terjadi saat ini, aku tidak akan menyalahkanmu, aku tidak akan menyalahkan keadaan, dan aku tidak akan menyalahkan takdir. Sebab aku percaya, tuhan memilih oranglain untuk kita dan rencana-Nya lebih dari rencana yang pernah kita buat. Dia sedang mempersiapkan kebahagiaan untuk kita, meskipun mungkin pada akhirnya kita tidak dipersatukan. Walaupun sampai saat ini aku belum mengerti bagaimana caranya melepaskanmu tanpa meninggalkan kebencian. Tapi, aku akan coba memahami perpisahan ini. Hingga untuk kehilanganmu pun aku tidak perlu membenci. Terimakasih atas waktu tak singkat yang kita lewati bersama. Terimakasih karena kamu pernah menjagaku dengan baik, pernah mencintaiku sepenuh hati. Sebab itu, aku akan mengenangmu dengan baik. Kamu memang baik, tetapi mungkin bukan yang terbaik untukku.
All Rights Reserved
#34
berkesan
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Mahligai Sunyi
  • Truth After Love, Kiara and Zaki (Tamat)
  • di akhir perang
  • MY BOYFRIEND IS MY HUSBAND
  • Datang Untuk Pergi
  • Rendra & Lila [END]
  • JATUH CINTA SETELAH MENIKAH
  • Love In Paris (COMPLETED)
  • Love In Silence

Novel "Mahligai Sunyi": Senja mulai menua di balik jendela kaca, membiaskan cahaya jingga yang merayap perlahan di sudut ruangan. Aku duduk dalam diam, menatap kosong pada cangkir teh yang tak lagi mengepul. Aroma melati yang biasa menenangkan kini terasa hambar di inderaku. Aku terjebak dalam pusaran pikiranku sendiri, menggenggam kenyataan yang pahit namun tak bisa kutolak. Aku pernah percaya bahwa cinta adalah tentang memilih satu orang, bertahan dengannya dalam segala cuaca, dalam segala luka. Namun, kini aku mengerti bahwa terkadang, cinta juga berarti kehilangan-kehilangan harapan, kehilangan rasa percaya, bahkan kehilangan diriku sendiri dalam labirin luka yang diciptakan oleh seseorang yang seharusnya menjagaku. Arion adalah cintaku, atau setidaknya pernah menjadi. Aku mempercayainya lebih dari yang seharusnya, mencintainya lebih dari yang pantas. Namun, cinta saja tidak cukup untuk mempertahankan sebuah rumah tangga. Tidak cukup untuk menghindarkanku dari rasa sakit yang berkali-kali ia hadiahkan. Tidak cukup untuk membuatnya berhenti mencari bahagia di tempat lain. Aku telah memaafkan, berkali-kali. Aku telah memberi kesempatan, hingga tak tahu lagi batas dari kata "cukup." Tetapi, sampai kapan aku harus terus bertahan? Sampai kapan aku harus mengorbankan kebahagiaanku sendiri demi menjaga sesuatu yang terus menerus hancur? Dan di sinilah aku, berdiri di persimpangan. Antara bertahan dengan luka atau pergi dengan sisa-sisa keberanian yang kupunya. Aku tidak tahu bagaimana akhir dari kisah ini. Yang kutahu, aku hanya ingin menemukan kembali diriku yang telah lama hilang.

More details
WpActionLinkContent Guidelines