Titik Beku

Titik Beku

  • WpView
    reads 423
  • WpVote
    Stemmen 1
  • WpPart
    Delen 2
WpMetadataReadLopende
WpMetadataNoticeLaatst gepubliceerd maa, sep. 3, 2018
Zetta percaya menikah bukanlah suatu pencapaian. Masih banyak yang harus Zetta lakukan dan persiapkan. Lagi pula dia sudah bahagia dengan hidupnya yang sekarang. Tak perlu lah, buru-buru menikah. Karena semua harus pada porsi yang sesuai, bukan? Tapi mana mau orang tuanya mengerti? Yang mereka tahu, Zetta sudah cukup usia untuk berkeluarga. Pacar juga sudah punya. Akan tetapi, bagaimana bisa dia membahas masalah keluarganya yang mendesak pernikahan, jika kekasihnya saja malah melakukan hal-hal yang menimbulkan benih-benih kecurigaan, menghancurkan fondasi terkuat dalam suatu hubungan bernama kepercayaan?
Alle rechten voorbehouden
#355
moveon
WpChevronRight
Word lid van de grootste verhalengemeenschapOntvang persoonlijke verhaal aanbevelingen, sla je favorieten op in je bibliotheek en geef commentaar en stem om je gemeenschap te laten groeien.
Illustration

Je bent misschien ook geïnteresseerd in

  • Perempuan Kedua
  • Suamiku Amnesia (REPOST)
  • Shadow of the unseen (Moqeel - Mohan Aqeela)
  • Sepasang Sepatu Tanpa Arah [END]
  • Beyond Perfection
  • HE WANTS TO FIX ME / TAMAT
  • Bukan Cerita Kita
  • A Love Meant to Be
  • Welcome My Happiness

Sepuluh tahun menjalani pernikahan, Arman dan Mutia adalah pasangan sempurna di mata orang-orang terdekatnya. Arman tampan, dan memiliki karier yang mapan. Mutia menarik, dengan karier yang tak kalah cemerlang. Keluarga mereka semakin sempurna oleh kehadiran dua putri yang cantik. Tetapi di balik itu, tidak ada yang tahu sedalam apa luka hati Mutia karena sang suami masih dekat dan bekerja bersama mantan pacar semasa kuliah yang bernama Arini. Juga tidak ada yang tahu, di balik karakternya yang kalem dan menawan, Arman harus jatuh bangun demi tampil sempurna di hadapan keluarganya. Tanpa mereka sadari, keduanya terlalu sibuk menyelamatkan ego masing-masing dengan meneggelamkan diri pada pekerjaan. Tanpa mereka sadari, pernikahan mereka telah menjadi muara yang kosong tanpa makna. Lalu peringatan itu datang dalam bentuk foto Arman bersama Arini. Membuat Mutia harus mengobrak-abrik zona nyaman yang selama ini dia pertahankan demi keutuhan keluarga. Serta memberanikan diri untuk mengupas lapis demi lapis karakter Arman, dan mencari semua rahasia hidup pria yang telah menjadi suaminya ini. Pada akhirnya, Mutia tiba pada pertanyaan, apakah dia masih punya alasan untuk bertahan?

Meer details
WpActionLinkInhoudsrichtlijnen