Kepada biru

Kepada biru

  • WpView
    Reads 1,378
  • WpVote
    Votes 80
  • WpPart
    Parts 25
WpMetadataReadComplete Fri, Mar 2, 2018
WpInfo
Poetry
Biru, aku belajar satu hal menyakitkan tapi tidak bisa aku elakkan. Ialah perasaan. Aku belajar bahwa seingin apapun aku memilikinya, dia tetap tidak bisa aku genggam. Dia terlalu jauh. Bahkan ketika dia tengah hadir menghiburku pun dia tetap terasa jauh. Biru, ingin sekali aku percaya jika semesta akan memberikan sedikit kesempatan untuk bersama. Ingin sekali rasanya aku percaya, tapi aku tidak bisa. Berkali-kali otak dan hatiku bertengkar akan hal ini. Biru, aku lupa kapan terakhir kalinya aku memiliki keinginan yang amat sangat aku ingini. Sebab sekarang aku sudah tidak berani lagi untuk bermimpi. Aku tidak ingin jatuh. Apalagi sendirian. Tidak ada yang membantu untuk bangkit, bisa jadi hanya ditertawakan. Biru, semenjak kenyataan itu aku terima. Aku sudah menutup hati tanpa ingin membukanya. Sebut saja aku jahat. Aku hanya tidak ingin menambah pecahannya. Sakit. Biru, aku hanya bisa diam ketika aku teringat tentangnya. Diam dengan menahan seluruh rasa sesak dalam dada. Kau pasti berpikir apa aku tidak lelah bersedih? Aku bahkan sudah tidak bisa rasa apa yang tengah aku rasa. Biru, semesta kira aku kuat. Padahal aku hanya pandai menyembunyikan tangis.
All Rights Reserved
#349
kamu
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • You're Here, But Not For Me
  • KITA BERBEDA (antara Aku, Kamu, dan Tuhan)
  • Lost in Your Mysterious Feeling [ TAMAT ]
  • Cerita Tentang Kita
  • Kamu [SELESAI]✔
  • Just Words
  • Truth After Love, Kiara and Zaki (Tamat)
  • Remaja
  • Sekali Lagi (End)
  • Senja (Diangkat Dari Kisah Nyata)

Katanya, tatapan bisa bohong. Tapi kenapa setiap kali mataku dan matanya bertemu, jantungku selalu membocorkan semuanya? Aku yang diam-diam menyimpan perasaan, dan dia... entah menyembunyikannya, atau memang belum menyadarinya. Kadang aku berharap dia gak lihat. Tapi kadang juga kecewa waktu dia beneran gak lihat. Lucu ya? Dan aku? Aku tetap di sini. Setiap kali aku melihatnya, aku hanya bisa menatap dari kejauhan, menyembunyikan perasaan yang tak pernah terucap. Aku takut, jika aku mengungkapkannya, semuanya akan berubah. Jadi, aku memilih diam, menikmati setiap momen kecil yang bisa aku curi bersamanya. Aku sering bertanya-tanya, apakah dia pernah merasakan hal yang sama? Namun, aku terlalu takut untuk mencari tahu jawabannya. Karena jika ternyata tidak, aku harus siap menerima kenyataan yang menyakitkan. Aku tahu, ini bukan cinta yang sehat. Tapi bagaimana aku bisa berhenti mencintainya, jika setiap detik aku hanya memikirkannya? Aku mencoba untuk menjauh, untuk melupakan perasaan ini. Namun, semakin aku mencoba, semakin aku terjebak dalam perasaan yang sama. Seolah-olah hatiku menolak untuk melepaskan. Aku membayangkan bagaimana rasanya jika dia tahu perasaanku. Apakah dia akan menjauh, atau justru mendekat? Namun, semua itu hanya ada dalam pikiranku. Aku menulis tentangnya, tentang perasaanku yang tak pernah sampai. Menulis menjadi pelarianku, satu-satunya cara untuk menyalurkan perasaan ini. Karena aku tahu, aku tak akan pernah bisa mengatakannya langsung padanya. Aku hanya bisa diam dan menahan semuanya sendiri. Tapi mungkin, inilah caraku mencintai. Dalam diam, tanpa harapan, tapi penuh ketulusan. Aku tahu, mencintai dalam diam adalah pilihan yang menyakitkan. Tapi aku juga tahu, ini adalah satu-satunya cara agar aku tetap bisa berada di dekatnya. Meskipun hanya sebagai teman, aku sudah cukup bahagia. Karena setidaknya, aku masih bisa melihat senyumnya setiap hari.

More details
WpActionLinkContent Guidelines