Di ujung nada Cinta

Di ujung nada Cinta

  • WpView
    Reads 25
  • WpVote
    Votes 1
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, Feb 22, 2018
Hari itu sepi sekali, hanya rintihan hujan yang terdengar oleh telinga mungil ini. Mungkin sebagian orang berpikir sekedar minum kopi sambil menyaksikan televisi adalah hal yang dirasa tepat untuk mengisi kekosongan ini. Tapi tidak bagi pria paruh baya yang sedari tadi duduk termenung dengan tenang. Di hadapan kanvas putih itu Ia mengadu. Tangan kanannya menggenggam kuas erat. Sesekali Ia terbatuk. Rambutnya yang mulai memutih tak jarang ia garuk dan jambak sesuka hati. Kuas itu kini bergerak maju, terlihat ragu dan nampak sedikit goyah. Sorot matanya terlihat berkaca-kaca. Entah apa yang sedang merasuki pikirannya kini. Suasana dingin justru bagai sebuah anomali yang membuat dirinya gugup berkeringat. Tiba-tiba terdengar teriakan. Kuas itu terlempar jauh. Sedangkan sang empu menjerit sejadi-jadinya. Terpancar gejolak batin muncul dari raut wajahnya. Sejak saat itu tempat ini menjadi saksi. Tak terduga, tempat pertemuan yang dulu mereka gandrungi justru meninggalkan kenangan pahit. Sesekali cewek itu kembali. Menanti cinta yang tak pasti. Tapi hanya kerinduan yang menghampiri dan menyelimuti kekosongannya.
All Rights Reserved
#787
squad
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Air Mata Di Pintu November (TERBIT) ✓
  • Berlari Untuk Menyerah [TERBIT CETAK]
  • Z O W I E
  • Perder El Amor
  • ANGIN RINDU (Completed)
  • Geng Bratadikara (TERBIT) ✓
  • Bumblebee {Nohyuck} Going To Season 2

Novel bisa dibeli di Shopee Jaehana_Store BAGIAN KEDUA SAPTA HARSA VERSI NOVEL || KLANDESTIN UNIVERSE "Kenapa lo jahat sama gue! Kenapa kemarin lo pergi? Kenapa? Kenapa lo ninggalin gue? Kenapa lo tega, Jen?" Haikal tak bisa lagi menahan kesedihan yang telah menumpuk di dalam dirinya. Jendral hanya tertawa kecil. "Lo ngomong apasih, Kal? Gue nggak pergi ke mana-mana, kita kan selalu sama-sama. Gue mana pernah ninggalin lo. Ayo ikut, gabung sama yang lain." Ia menarik tangan Haikal, mengajaknya berlari menuju sisi lain dari air mancur itu. Di sana, semua anggota Klandestin berkumpul. Beberapa duduk di atas ayunan yang berderit pelan, ayunan tersebut dihiasi dengan lampu-lampu kecil yang mengelilinginya. "Bang Haikal! Kenapa telat? Kita nungguin loh!" seru Cakra. "Kal, sini, ada mainan yang cocok buat lo," tambah Reihan. Namun, Haikal menggeleng. Ia justru menggenggam erat tangan Jendral di sampingnya. "Kenapa, Mbul? Main sana," Jendral menatapnya dengan heran. Haikal menggeleng lagi, kali ini dengan lebih kuat. "Gue takut," bisiknya, suaranya hampir tak terdengar. "Takut?" Jendral tertawa, seolah-olah hal itu adalah lelucon. "Seorang Haikal takut?" Haikal mengangguk, menahan diri untuk tidak menangis. "Gue takut kalo genggaman tangan gue lepas, lo bakalan pergi."

More details
WpActionLinkContent Guidelines