True love

True love

  • WpView
    Reads 321
  • WpVote
    Votes 52
  • WpPart
    Parts 7
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Mon, Apr 23, 2018
Berawal dari Mike yang menerima taruhan dari sahabatnya untuk mengharuskan mengubah penampilan Seorang cewek culun dan membuatnya jatuh cinta kepada Mike. Sampai semuanya terbongkar, dan membuat gadis itu pergi. Akankah dia akan kembali atau tidak? Dan apakah Mike menyesali perbuarannya atau tidak? ************** ******** "Gue gak nyangka, Hebat..hebat Mike"kata Violet sambil nahan bulir air mata yang akan keluar dari mata cantiknya. "Gue udah percaya sama lo, Tapi lo giniin gue..Selamat lo mrnang dari taruhan Sahabat lo itu tapi ingat lo akan nyesal lakuin ini ke gue Mike" kata Violet penuh dengan emosi dan bulir air mata sudah jatuh dan dia tak tahan untuk mrnahannya lebih lama lagi. Sedangkan Mike dia hanya diam sambil menatap Violet dengan datar, tapi jauh di lubuk hatinya dia merasa gelisah dan bersalah melihat Violet nangis. "Ada apa sama gue sih"batin Mike bertanya-tanya. Setelah itu Mike berkata "Owh..thanks ya ucapannya, dan ya gue gak akan pernah nyesal, lagian ini kan cuma permainan"Mikr berucap tapi beda dengan kata hatinya. "huh! PERMAINAN? PERMAINAN LO BILANG? PERMAINAN YANG MENGORBANKAN PERASAAN SESEORANG?!! PENGECUT LO MIKE"kata Violet berteriak sedangkan Nicho, Varell , Chloe dan Sesil hanya diam tak berani berucap. "Fine..gue gak akan ketemu lo lagi, gue akan pergi sampai lo gak akan pernah bisa ketemu sama gue lagi dan ingat kata-kata gue..lo akan nyesal Michael Johnson"kata Violet. "Dan untuk kalian thanks udah ngisi hari-hari gue dengan kebahagiaan sekaligus kesedihan..Good Bye guys and Good Bye Indonesia"kata Violet. Belum sempat yang lain bicara taoi Violet sudah pergi dari hadapan mereka..untuk selamanya. Apakah Violet akan kembali lagi? Atau tidak?.. Apakah kelanjuran ceritanya? Baca aja ya guys.. Vote and coment ya guys.
All Rights Reserved
#706
taruhan
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Amor Eterno
  • How to Survive
  • Summer Triangle  (Revisi)
  • AFIKA [ ENDβœ” ]
  • Only You
  • 36 days with you {saida} [End]
  • Memory of The Love Melody {Completed}
  • Why Do You Love Me [COMPLETED]
  • Arsyilazka
  • Vericha Aflyn βœ”οΈ

"Lo mau hubungan kita jadi kayak apa, Harlen?" Qila menghentakkan tangan pria itu, lalu menoleh cepat dengan sorot mata tajam. Suaranya bergetar-bukan karena takut, tapi karena menahan amarah yang sudah terlalu lama disimpan. "Aku... aku pengin hubungan kita jadi lebih serius," jawab Harlen pelan, nadanya seperti memohon. "Serius?" Qila tertawa miris. "Serius kayak gimana? Kayak lo yang tiba-tiba udah punya tunangan tanpa bilang apa-apa ke gue?" Harlen terdiam, tak sanggup membalas. "Atau lo mau gue jadi simpanan, gitu? Tapi sayangnya, Harlen, gue bukan cewek murahan kayak gitu," lanjut Qila sambil memutar bola matanya, malas sekali menatap wajah pria di hadapannya. "Bukan gitu maksud gue..." Harlen mencoba meraih tangan Qila lagi, tapi kali ini pun langsung ditepis. "Gue capek dengar omongan lo yang manis-manis tapi ujung-ujungnya nyakitin. Lo bilang pengin serius? Lo bilang pengin perkenalin gue ke orang tua lo? Please, Harlen. Udah telat." "Qila, tolong dengerin dulu..." "Cukup." Qila menarik napas dalam-dalam, menahan emosi yang hampir meledak. "Ini terakhir kalinya kita ketemu. Setelah ini, gak akan ada lagi 'kita'. Gak sengaja ketemu pun, gue harap itu gak akan pernah kejadian. Gue muak liat muka lo." Langkahnya cepat, pergi meninggalkan Harlen yang masih berdiri mematung di tempat. Tapi Harlen belum menyerah. "Qila! Tunggu, dengerin dulu!" Namun Qila tetap berjalan, masuk ke dalam taksi yang sudah menunggunya di pinggir jalan. "Jalan, Pak," ucapnya pada sopir. Taksi pun mulai melaju. Dari kaca belakang, bayangan Harlen terlihat masih mengejarnya, berteriak, memanggil namanya. "QILAAAA!" Tapi Qila tak menoleh. Tatapannya lurus ke depan, seolah tak ada apa pun di belakang yang layak dilihat kembali. Dalam hati, ia berbisik, Maaf, Harlen... tapi kali ini aku benar-benar udah gak sanggup.

More details
WpActionLinkContent Guidelines