My Possesive Doctor

My Possesive Doctor

  • WpView
    LECTURES 85,409
  • WpVote
    Votes 2,710
  • WpPart
    Chapitres 23
WpMetadataReadEn cours d'écriture
WpMetadataNoticeDernière publication dim., mai 31, 2020
WpInfo
Fiction
Romance
Felivia adalah perempuan yang kehilangan semangat karena penyakit, perempuan yang selalu ingin merasa bahwa semua sayang padanya tapi itu sekarang setelah Tuhan ingin mengambil dirinya. Orang tuanya selalu memberikan waktu yang cukup untuknya sekarang. Dia selalu berfikir bahwa penyakit ini akan membawanya kepada Tuhan, bahkan kedua orang tuanya mengirim dia ke Inggris untuk melakukan pengobatan karena orang tuanya sangat menginginkan senyumnya utuh kembali. Di Inggris dia mendapat semangat, mendapatkan harapan bahwa dia akan tetap bisa menjalani hidupnya yang dulu. "Thanks for all that you give to me" Felivia Shaquil "This is happen because god" Devian Aldric 🚫 Don't copy my story 🚫 ⌚ Maret, 2018
Tous Droits Réservés
Rejoignez la plus grande communauté de conteursObtiens des recommandations personnalisées d'histoires, enregistre tes préférées dans ta bibliothèque, commente et vote pour développer ta communauté.
Illustration

Vous aimerez aussi

  • [End] Behind The Heart
  • ABCD [TELAH DI TERBITKAN]
  • MY BEST MISTAKE
  • 5 Years Later
  • Independent of Love (Selesai)
  • Breathe
  • T I M E
  • Rain | ArleaVenout
  • REGRET [TAMAT]
  • Everything Has Changed (Completed)

[Romance] Follow dulu, baru dibaca. Avram Gian Pradipto -Dokter dengan tingkat kegagalan operasi 0%- Wanita itu melihatku tajam. Tanpa rasa terkejut, maupun cemas. Sebaliknya, ia balik tersenyum dan menunjukkan raut lega. Lalu pelan, bibirnya mulai berucap, "Tidak, terima kasih. Tapi, aku tidak ingin sembuh. Jadi, dok ... biarkan aku tetap sakit dan meninggal pada akhirnya." Galiya Mira Tabitha -Pasien dengan tingkat keinginan mati 100%- Pria itu melihatku bingung. Penuh rasa khawatir dan takut. Ia bertindak seakan dirinya adalah pasien dan aku sebagai dokternya. Lalu cepat, suaranya mulai kembali terdengar, "Saya tidak mengerti. Kenapa ... kenapa kamu bisa memiliki pikiran seperti itu? Kematian bukan sesuatu yang mudah. Dan saya ... saya tidak akan membiarkan kamu untuk meninggal. Tidak akan pernah." Bagaimana jadinya, jika seorang dokter yang selalu ingin menyelamatkan nyawa seseorang, bertemu dengan pasien yang tidak ingin diselamatkan? Akankah tercipta sebuah pengertian? Atau justru membentuk sebuah akhir menyedihkan?

Plus d’Infos
WpActionLinkDirectives du Contenu