Dia Adalah Senjaya.

Dia Adalah Senjaya.

  • WpView
    LECTURAS 256
  • WpVote
    Votos 21
  • WpPart
    Partes 2
WpMetadataReadContinúa
WpMetadataNoticeÚltima publicación sáb, mar 10, 2018
WpInfo
Ficción
Romance
Senjaya tolong beritahu saya bagaimana caranya merindu tanpa merasakan hujan di raut wajah? Senjaya rindu saya ini terus saja mengalihkan setiap akal yang terus menikam untuk mengalihkan mu dari getir yang telah lama bernaung. Tuan, Senja... Dari sudut manapun saya bukan ahli dalam perkara melupakan, apalagi menghilangkan rasa yang tak kunjung menuju titik akhir. Ke-abuan, yang sekarang saya rasakan. Tak ada warna yang pasti untuk keadaan ini saat ini hanya warna abu yang mampu saya ketahui. Abu.. Tak pasti, bukan hitam bukan juga putih. Rasanya ingin sekali untuk melepas tanpa melepaskan yang sesungguhnya, namun jangankan untuk melepas, hanya untuk berpindah rindu saja saya masih remidial. Senjaya jangan melulu menciptakan ruang rindu untuk gadis ini, jika ingin mencipta rindu untuk gadis ini ciptalah rindu yang nyata, jangan hanya ke-abuan semata saja. Tulisan ini seharusnya sudah berakhir sedari akhir tahun kemarin tapi nyatanya kamu masih genap menempati abjad-abjad yang selalu saya rangkai. Saya kira akan ada akhir yang berakhir titik dalam rindu yang kamu cipta untuk saya, nyatanya sampai saat ini jangankan untuk berakhir, rindu ini bahkan tanpa jeda. Senjaya saya rindu akan semua nya, Senjaya biarkan saya terus menciptakan aksara ini untuk kamu. Jawa Tengah, - Kianay Hasnadzi.
Todos los derechos reservados
Únete a la comunidad narrativa más grandeObtén recomendaciones personalizadas de historias, guarda tus favoritas en tu biblioteca, y comenta y vota para hacer crecer tu comunidad.
Illustration

Quizás también te guste

  • Berandalan di Mata Sang Tuan Muda.
  • The Time
  • EVANESCENT (HIATUS)
  • ATLANTIS 2: PANGLIMA
  • Transmigrasi Ziora
  • Tsundere Maniak Susu
  • I'm Not Just a Figuran
  • GHAIKA (REVISI)
  • Blueprint Pelarian Villain [END]
  • GRAVARENZO

​Suara decit sepatu basket yang bergesekan dengan lantai semen SMA Nusantara Bakti seolah menjadi satu-satunya melodi yang akrab di telinga Arga. Matahari Jakarta yang menyengat di jam 12 siang sama sekali tidak ia gubris. Peluh membasahi jersey birunya, mengalir melewati leher dan hilang di balik kain yang sudah basah kuyup. ​Bagi Arga, hanya di lapangan ini dunia terasa jujur. Di sini, musuhnya jelas: ring basket dan lawan main. Tidak ada teriakan ibunya yang melengking menyalahkan takdir, tidak ada bau alkohol dari ayahnya yang pulang pagi membawa tumpukan utang baru, dan tidak ada beban rasa bersalah setiap kali melihat kakaknya pulang kerja dengan wajah pucat demi membiayai sekolahnya. ​"Arga! Berhenti main atau gue laporin ke BK karena bolos jam sejarah lagi!" ​Arga menghentikan dribel bolanya. Ia menoleh, menyeka keringat dengan punggung tangan, lalu menyeringai tipis melihat pengurus OSIS yang berdiri di pinggir lapangan dengan buku catatan. ​"Laporin aja," sahut Arga santai. "Ruang BK udah kayak rumah kedua buat gue, sekalian titip salam buat Pak Hendra." ​Di sisi lain koridor sekolah yang lebih dingin karena hembusan AC, melangkah sosok yang menjadi pusat gravitasi SMA Nusantara Bakti. Adrian. ​Setiap langkahnya terukur, seragamnya rapi tanpa cela, dan wajah blasterannya yang seolah dipahat langsung oleh malaikat, selalu memasang ekspresi datar yang sulit ditembus. Sebagai Ketua OSIS sekaligus putra tunggal dari pemilik Arsenio Group, Adrian adalah definisi kesempurnaan yang nyata. Hidupnya adalah garis lurus yang tenang, penuh fasilitas, dan kasih sayang yang melimpah. ​⊹ ࣪ ﹏𓊝﹏𓂁﹏⊹ ࣪ ˖⊹ ࣪ ﹏𓊝﹏𓂁﹏⊹ ࣪ ˖ WARNING ⚠ - b×b - BL lokal - Mpreg - ini cerita bl, awas jangan salah lapak. - banyak typo bertebaran.

Más detalles
WpActionLinkPautas de Contenido