Gavi berjalan dengan slow motion mendekati Ayanna. "Ayanna!!" Panggil Gavi. Bukannya menjawab malah kedua matanya berkedip beberapa kali tanda tak percaya dengan yang ada di depannya. "Ayanna, Aku gak akan mengatakannya untuk kedua kali. Dengarkan aku baik-baik." Titah Gavi. Ayanna menganggukkan kepala tanda ia mengerti. "Aku sudah menunggu saat ini untuk waktu yang lama. Untuk mengatakan ini, aku butuh banyak waktu. Mempertimbangkan segala hal yang mungkin terjadi. Bermunajat pada Tuhan untuk menentukan pilihan yang paling tepat. Berkali-kali ku tanya pada hatiku sendiri. Sudah tepatkah pilihanku? Dan berkali-kali pula jawabanku tetap sama, itu kamu. Will you marry me Ayanna?" Seru Gavi. Ayanna membeku beberapa saat oksigen di sekitar mulai dirasa berkurang badannya panas dan keringat mulai membasahi tubuhnya. Ia tidak bisa berpikir secara logis setelah mendengar perkataan Gavi barusan. Ayanna mencoba gali lagi pikirannya bahkan sampai ke inti otaknya mungkin. Untuk bisa memberi jawaban kepada Gavi yang masih setengah berlutut di depannya. Ayanna memejamkan netranya berusaha mencari jawaban karena tidak mungkin ia tidak menjawabnya karena kini semua pusat perhatian ada padanya juga Gavi. Ayanna mengulurkan jemarinya seraya berkata "yes. I do." Dengan lirihnya. Senyuman mengembang di wajah tampan Gavi juga sorakan kebahagiaan dari mereka yang menjadi saksi pernyataan lamaran Gavi dan Ayanna. Gavi meraih cincinnya dengan cepat memakaikannya di jemari manis Ayanna "thanks Ay.." Bisik Gavi. "Gue terpaksa terima lamaran loe, gak mungkin kan gue permalukan loe didepan umum." Bisik Ayanna lirih. Senyum pun memudar dari rahang tampan Gavi "kamu gak akan menyesalinya Ay, karena bahagiamu diatas segalanya." Ucap Gavi seraya mencuri ciuman keduanya dibibir merekah Ayanna.
Más detalles