We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.
Story Yesterday : Lian

Story Yesterday : Lian

  • WpView
    Reads 12
  • WpVote
    Votes 2
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Mon, Mar 19, 2018
WpInfo
Fiction
Romance
Aku berpikir. Berulang kali. Merenungi apa yang telah aku perbuat. Saat itu mungkin aku menilai kamu yang berubah. Tapi nyatanya ego telah menguasai diri ini. Aku kalang kabut. Bagai tersesat dalam gelapnya sebuah ruang kegelisahan. Bertujuan ingin menjauh dari hal buruk itu namun malah terjerumus dalam lubangnya. Kini semua telah usai. Kata 'Kita' telah hilang ditelan waktu. Menyisakan 'Aku' dan 'Kamu'. Perih rasanya. Tapi mungkin beginilah cara Tuhan menyadarkanku, bahwa mempertahankan adalah hal tersulit setelah mendapatkan.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Truth After Love, Kiara and Zaki (Tamat)
  • Kizu
  • Terlambat Jatuh Cinta
  • Shorts Story
  • Namamu Tak Pernah Disebut Ibu
  • Lolipop berdarah
  • ON REMEMBERING
  • Yang Tak Pernah Ada
  • Behind After
  • Noda dalam Cinta

sebelum baca, FOLLOW dulu gasii??? "Sayangkuu, cintakuu. Gimana dengan hari ini, hm? Are you happy?" "Seru dong, senang karena ada kamu, Ka. Hehe." Dulu, setiap percakapan kecil seperti itu mampu menyulap hariku jadi lebih indah. Tapi semua itu kini tinggal kenangan. Hubungan yang manis dan penuh tawa itu akhirnya harus berakhir, bukan karena cinta kami memudar, tapi karena kenyataan terlalu pahit untuk ditelan bersama. Aku masih mencintaimu. Masih ingin mendekat, masih berharap bisa kembali. Tapi jarak ini bukan lagi tentang raga-melainkan tentang takdir yang tak mengizinkan kita bersatu. Cinta kita besar, tapi tidak cukup untuk melawan kenyataan yang tak berpihak. Banyak halangan yang kucoba lalui demi kamu, demi kita... tapi ternyata semesta punya rencana lain. Kini, aku hanya bisa menatapmu dari kejauhan. Ingin kembali, tapi tak bisa. Ingin melepaskan, tapi hatiku belum rela. Satu kejadian itu-satu hari yang mengubah segalanya-telah memutus tali yang tak terlihat namun sangat kuat mengikat kita. Jika bukan karena kejadian itu, mungkin aku masih tersesat dalam hubungan yang samar: ada, tapi tak punya peran. Dulu aku memegang peran utama di hidupmu. Sekarang? Bahkan untuk menjadi figuran pun aku tak lagi layak. Kita pernah sangat dekat, tapi kini aku tahu... melepaskan sesuatu yang sudah terasa seperti rumah tidak akan membuat segalanya membaik. Bahagia tidak selalu datang setelah menjauh. Dan seringkali, hubungan yang tampak sempurna dari luar menyimpan luka yang tak pernah terucap. Aku tak menyangka semuanya akan berakhir seperti ini. Tapi yang sudah terjadi, biarlah terjadi. Meski begitu, kenangan itu-kenangan tentang hari itu-masih terpatri jelas di pikiranku. Hari saat aku sadar... cinta saja tidak cukup.

More details
WpActionLinkContent Guidelines